Latest Article Get our latest posts by subscribing this site
COMUNITY NIGHT DAY
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 07.12
with No comments
COMUNITY NIGHT DAY
assalamu alaikum ikhwan akhwat fii sabilillah alhamdulillah atas segala kasih sayang allah kita masih bisa di pertemukan pada kesemnpatan yang baik ini, ikhwan akhwat tentunya masih ingat sabda rasulullah bahawasanya sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain..., dan juga surah al-ash'r nah itu lah dasar landasan bg saya tergugah untuk mengingatkan serta mengajak teman2 semua melaksanakan solat lail... dalam surah al muzammil dan al mudatsir allah memanggil kita untuk terbangun di malam hari melaksanakan solat lail.... saya pribadi membuat sebuah program comunity night day dmn pada program ini teman2 semua akan di beri kemudahan mendapat sms atau miscol di waktu sepertiga malam hari... mari bergabung dengan cara ketik DAFTAR#NAMA#IKHWAN / AKHWAT#USIA#KOTA KIRIM KE 085736706782 SAYA JAMIN GERATIS...
NB: PROGRAM INI TERLAKSANA JIKA SALDO PULSA SAYA MASIH ADA DAN CUKUP ...
semoga ALLAH meridhoi kita semua,
ttd
HANIF FERIANTO
assalamu alaikum ikhwan akhwat fii sabilillah alhamdulillah atas segala kasih sayang allah kita masih bisa di pertemukan pada kesemnpatan yang baik ini, ikhwan akhwat tentunya masih ingat sabda rasulullah bahawasanya sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain..., dan juga surah al-ash'r nah itu lah dasar landasan bg saya tergugah untuk mengingatkan serta mengajak teman2 semua melaksanakan solat lail... dalam surah al muzammil dan al mudatsir allah memanggil kita untuk terbangun di malam hari melaksanakan solat lail.... saya pribadi membuat sebuah program comunity night day dmn pada program ini teman2 semua akan di beri kemudahan mendapat sms atau miscol di waktu sepertiga malam hari... mari bergabung dengan cara ketik DAFTAR#NAMA#IKHWAN / AKHWAT#USIA#KOTA KIRIM KE 085736706782 SAYA JAMIN GERATIS...
NB: PROGRAM INI TERLAKSANA JIKA SALDO PULSA SAYA MASIH ADA DAN CUKUP ...
semoga ALLAH meridhoi kita semua,
ttd
HANIF FERIANTO
DEMI MASA, jangan mau merugi euy,,,
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 09.36
with No comments
Oleh : Hanif ferianto
assalamu alaikum, ikhwah fillah yang di muliakan Allah begitu jelas dan sejak dini Allah telah mengingatkan kepada seluruh hambanya di dalam surah Al-Ashr bahwasanya manusia itu benar2 berada di dalam kerugian.. sering kali semenjak tk hingga sma atau mungkin hingga keperguruan tinggi anda selalu membaca surah ini, apa sih sebenernya makna dari surah al-ashr itu...?? ya mari kita kembali mengingat memori....
Mari kita perhatikan ayat berikut:
(1) Demi masa.
(2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
(3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
pada ayat ke3 disampaikan bahwasanya ada sebagian dari manusia yang tidak merugi lalu siapakah mereka?
>pertama orang2 yang beriman, orang2 yang beriman yang senantiasa tak prnah lelah mereka merindukan allah, tak pernah henti mereka mengingat allah, karena di dalam hatinya ia akan merunduk ketika ayat2 allah di dendangkan, dan menjadikannya semakin ingat akan noda dan nista dirinya
>kedua mengerjakan amal shaleh, mengerjakan amal shaleh karena mengharap ridha allah... lain lagi dengan yang berharap di puji atau ingin mendapat julukkan si sholeh dari manusia loh... hehehe.. mungkin sulit dan hampir tidak bisa sepenuhnya kita menghapus riya' dari dalam diri kita.. tapi ingat Allah itu melihat sejauh mana usaha kita... jadi kita semaksimal mungkin aja deh menghapus riya' itu... selebihnya biar Allah yang menilai..
>ketiga yaitu orang yang menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.. ada mungkin di antara teman anda yang pernah mengejek atau seakan ia seperti menghalangi jalan dakwah anda untuk mengingatkan saudara2 kita, tapi tenanglah gak perlu kita ambil hati... kita doakan aja semoga cepat bertambah ilmunya, amin.... hehhehe... ikhwah fillah yang di muliakan Allah... yuk bersama2 kita menghidupkan dakwah kita... karena tanpa dakwah manusia seakan terombang ambing jalan kehidupan nya... selamat berjuang semoga Allah mem berkahi kita... amin.. MA'ANNAJAH...
silahkan copy paste tapi jgn lupa sertakan alamat berikut:
www.hanifump.blogspot.com
assalamu alaikum, ikhwah fillah yang di muliakan Allah begitu jelas dan sejak dini Allah telah mengingatkan kepada seluruh hambanya di dalam surah Al-Ashr bahwasanya manusia itu benar2 berada di dalam kerugian.. sering kali semenjak tk hingga sma atau mungkin hingga keperguruan tinggi anda selalu membaca surah ini, apa sih sebenernya makna dari surah al-ashr itu...?? ya mari kita kembali mengingat memori....
Mari kita perhatikan ayat berikut:
(1) Demi masa.
(2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
(3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
pada ayat ke3 disampaikan bahwasanya ada sebagian dari manusia yang tidak merugi lalu siapakah mereka?
>pertama orang2 yang beriman, orang2 yang beriman yang senantiasa tak prnah lelah mereka merindukan allah, tak pernah henti mereka mengingat allah, karena di dalam hatinya ia akan merunduk ketika ayat2 allah di dendangkan, dan menjadikannya semakin ingat akan noda dan nista dirinya
>kedua mengerjakan amal shaleh, mengerjakan amal shaleh karena mengharap ridha allah... lain lagi dengan yang berharap di puji atau ingin mendapat julukkan si sholeh dari manusia loh... hehehe.. mungkin sulit dan hampir tidak bisa sepenuhnya kita menghapus riya' dari dalam diri kita.. tapi ingat Allah itu melihat sejauh mana usaha kita... jadi kita semaksimal mungkin aja deh menghapus riya' itu... selebihnya biar Allah yang menilai..
>ketiga yaitu orang yang menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.. ada mungkin di antara teman anda yang pernah mengejek atau seakan ia seperti menghalangi jalan dakwah anda untuk mengingatkan saudara2 kita, tapi tenanglah gak perlu kita ambil hati... kita doakan aja semoga cepat bertambah ilmunya, amin.... hehhehe... ikhwah fillah yang di muliakan Allah... yuk bersama2 kita menghidupkan dakwah kita... karena tanpa dakwah manusia seakan terombang ambing jalan kehidupan nya... selamat berjuang semoga Allah mem berkahi kita... amin.. MA'ANNAJAH...
silahkan copy paste tapi jgn lupa sertakan alamat berikut:
www.hanifump.blogspot.com
Banyak Kematian Mendadak, Anak Muda Harus Perbanyak Amal Shalihnya
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 03.24
with No comments
Banyak Kematian Mendadak, Anak Muda Harus Perbanyak Amal Shalihnya
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas segala limpahan nikmat-nikmat-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Bagi orang yang umurnya banyak (tua) hendaknya memperbanyak amal shalih. Hal ini karena satu hukum alam yang sudah Allah tetapkan, orang tua lebih dekat kepada kematian daripada anak muda, karena tua adalah puncak dari umur manusia. Orang muda masih ada harapan tua, tapi orang tua tak akan lagi menjadi muda apalagi remaja.
Namun demikian, bukan berarti anak-anak muda boleh berleha-leha karena kematiannya masih lama. Sebab manusia, tua atau muda, tak tahu kapan akan meninggal dunia. Terkadang ada orang yang meninggal saat dia masih muda, terkadang diakhirkan sampai usia tua. Karenanya anak mudapun kudu memperbanyak amal shalih sebagai bekal menghadapi kematian.
Satu pelajaran yang berharga, seusai shalat Dzuhur berjamaah di Masjid Agung Al-Barkah Bekasi, jamaah dimohon untuk ikut menshalatkan jenazah saudara muslim yang sudah dibawa di masjid. Agus Heru Purnomo bin Satimin, namanya. Beliau meninggal dunia tadi malam dalam usia, 41 tahun. Terhitung masih muda, belum terlalu tua. Menurut penuturan salah satu perwakilan keluarga yang usianya lebih tua, keponakannya ini meninggal pada pukul 02.00 dini hari tadi (Senin, 20 November 2011), tanpa di dahului sakit. Maksudnya, meninggal secara tiba-tiba atau mendadak. Dan di akhir zaman, sebagaimana tuliskan kami terdahulu di voa-islam.com, kematian mendadak di akhir zaman semakin marak. Hal ini hendaknya meningkatkan kewaspadaan kita semua, karena khabar dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pastilah benar.
Kematian Datang Tanpa Diundang
Sesungguhnya kematian merupakan misteri bagi manusia. Tak seorangpun yang tahu kapan datangnya. Namun satu kepastian bahwa ajal (waktu kematian) seseorang sudah tercatat jauh hari di Lauhul Mahfudz sebelum manusia diciptakan. Dan ketika seseorang sudah tiba ajalnya, maka tidak bisa diajukan barang sesaat ataupun diundurkan. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al A'raf: 34)
Setelah kematian maka kesempatan beramal telah habis. Manusia akan mendapatkan balasan dari amal-amal perbuatannya di alam kubur, berupa nikmat atau adzab kubur. Dan ketika sudah terjadi kiamat, dia akan dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah.
"Maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."(QS.Al-A’raf:35)
Sedangkan orang yang kafir dan ingkar terhadap kebenaran Islam, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”(QS.Al-A’raf:36)
Kematian Mendadak Semakin Marak di Akhir Zaman
Kasus Meninggal mendadak seperti yang menimpa Agus Heru Purnomo di atas semakin sering kita dengar. Bahkan beberapa public figure seperti Adjie Massaid, Basukin dan lainnya telah mengalaminya. Dan di akhir zaman, jumlahnya semakin banyak sebagimana yang diungkapkan oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al Wabil dalam kitabnya Asyratus Sa'ah. Beliau menyebutkan, kematian yang datang tiba-tiba atau mendadak merupakan salah satu dari tanda dekatnya kiamat. Hal ini didasarkan pada beberapa kabar hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, salah satunya hadits marfu' dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu,
إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ . . . أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفُجْأَةِ
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah . . . akan banyak kematian mendadak." (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami' al-Shaghir no. 5899)
Fenomena ini sudah sering kita saksikan pada masa sekarang ini. Orang yang sebelumnya sehat bugar, tiba-tiba ia mati mendadak. Hal ini dibenarkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) berdasarkan sebuah penelitian, setiap tahunnya banyak orang meninggal karena stroke dan serangan jantung, bahkan disebutkan kalau penyakit jantung menempati urutan pertama yang banyak menyebabkan kematian pada saat ini.
Dalam hadits ini terdapat mukjizat ilmiah yang kita benarkan melalui kajian kedokteran yang harus diakui. Mukjizat ini membuktikan bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah utusan Allah yang tidak berbicara berdasar hawa nafsunya, tapi yang beliau sampaikan adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada beliau.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. Al-Najm: 3-4)
Rasanya orang yang hidup pada zaman Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tak pernah membayangkan fenomena merebaknya kematian mendadak, kecuali berdasarkan wahyu ilahi yang menyingkap fenomena ini.
Maksud Kematian Mendadak
Banyak sebab kematian, tapi kematian itu tetap satu. Hal ini menunjukkan bahwa kematian memiliki sebab, seperti sakit, kecelakaan, atau bunuh diri dan semisalnya. Sedangkan kematian yang tanpa didahului sebab itulah maksud kematian yang mendadak yang belum bisa diprediksi sebelumnya. Seiring majunya ilmu kedokteran, manusia bisa menyingkap tentang sebab kematian seperti kanker, endemik, atau penyakit menular. Penyakit-penyakit ini mengisyaratkan dekatnya kematian, tetapi sebab yang utama adalah mandeknya jantung secara tiba-tiba yang datang tanpa memberi peringatan.
Para ulama mendefinisikan kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung.
Imam al-Bukhari dalam shahihnya membuat sebuah bab,
بَاب مَوْتِ الْفَجْأَةِ الْبَغْتَةِ
"Bab kematian yang datang tiba-tiba". Kemudian beliau menyebutkan hadits Sa'ad bin 'Ubadah Radliyallah 'Anhu, beliau berkata kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan aku yakin seandainya ia berbicara sebelum itu, pastilah dia ingin bersedekah. Maka dari itu, apakah dia akan mendapat pahala apabila jika aku bersedekah untuknya?" Beliaupun menjawab, "Ya". (Muttafaq 'alaih)
. . . kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung. . .
Kematian Mendadak Dalam Pandangan Ulama
Sebagian ulama salaf tidak menyukai kematian yang datang secara mendadak, karena dikhawatirkan tidak memberi kesempatan seseorang untuk meninggalkan wasiat dan mempersiapkan diri untuk bertaubat dan melakukan amal-amal shalih lainnya. Ketidaksukaan terhadap kematian mendadak ini dinukil Imam Ahmad dan sebagian ulama madzhab Syafi'i.
Sementara Imam al-Nawawi menukil bahwa sejumlah sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan orang-orang shalih meninggal secara mendadak. An-Nawawi mengatakan, "Kematian mendadak itu disukai oleh para muqarrabin (orang yang senantiasa menjaga amal kebaikan karena merasa diawasi oleh Allah)." (Lihat (Fathul Baari: III/245)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Dengan demikian, kedua pendapat itu dapat disatukan." (Fathul Baari: III/255)
Terdapat keterangan yang menguatkan bahwa kematian mendadak bagi seorang mukmin tidak layak dicela. Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu, dia berkata, "Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir." Ini adalah lafadz Abdul Razaq dan al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir, sedangkan lafadz Ibnu Abi Syaibah, "Kematian mendadak merupakan istirahat (ketenangan) bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang kafir." (HR. Abdul Razaq dalam al Mushannaf no. 6776, al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir no. no. 8865)
Dari Aisyah Radliyallah 'Anha, berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengenai kematian yang datang tiba-tiba. Lalu beliau menjawab,
رَاحَةٌ لِلْمُؤْمِنِ وَأَخْذَةُ أَسَفٍ لِفَاجِرٍ
"Itu merupakan kenikmatan bagi seorang mukmin dan merupakan bencana bagi orang-orang jahat." (HR. Ahmad dalam al-Musnad no. 25042, al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman no. 10218. Syaikh al Albani mendhaifkannya dalam Dha'if al Jami' no. 5896)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud dan Aisyah Radliyallah 'Anhuma, keduanya berkata, "Kematian yang datang mendadak merupakan bentuk kasih sayang bagi orang mukmin dan kemurkaan bagi orang zalim." (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf III/370, dan al-Baihaqi dalam al-Sunan al Kubra III/379 secara mauquf).
Alangkah indahnya hadits yang dijadikan sebagai penguat oleh Imam al-Baihaqi dalam al Sunan al-Kubra pada kitab "Al-Janaiz" Bab, "Fi Mautil Faj'ah", dari hadits Abu Qatadah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah dilalui iring-iringan jenazah. Beliau lalu bersabda, "Yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa maksud yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya?" Beliau menjawab,
الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
"Seorang hamba yang mukmin beristirahat dari keletihan dunia dan kesusahannya, kembali kepada rahmat Allah. Sedangkan hamba yang jahat, para hamba, negeri, pohon dan binatang beristirahat (merasa aman dan tenang) darinya." (HR. Muslim no. 950, Ahmad no. 21531)
Kematian mendadakn yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan baginya. Dia terbebas dari hiruk pikuk dunia yang menjemukan dan terbebas dari fitnah-fitnahnya. Sedangkan Kematian mendadak yang dialami seorang fajir merupakan kabar gembira bagi hamba Allah, mereka akan terbebas dari gangguannya. Di antara gangguannya adalah kezalimannya terhadap mereka, kesenangannya melakukan kemungkaran dan jika diingatkan malah menantang dan itu menyulitkan mereka. Jika diingatkan malah menyakiti dan bila didiamkan mereka menjadi berdosa. Sedangkan istirahatnya binatang adalah dikarenakan sang fajir tadi selalu menyakiti dan menyiksanya serta membebani di luar kemampuannya, tidak memberinya makan dan yang lainnya. Sedangkan istirahatnya negeri dan pepohonan adalah karena perbuatan jahat sang fajir hujan tidak turun, dia mengeruk kekayaannya dan tidak mengairinya.
Menyikapi Kematian Mendadak
Bagi orang yang berakal sehat tentu akan mengambil pelajaran dari fenomena yang ia saksikan. Terlebih fenomena tersebut telah disampaikan oleh orang yang terpercaya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ia akan bersegera kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, sebelum kematian itu menjemputnya.
Imam al-Bukahri pernah berkata,
Peliharalah waktu ruku'mu ketika senggang . . . Sebab, boleh jadi kematian akan datang secara tiba-tiba
Betapa banyaknya orang yang sehat dan segar bugar . . . Lantas meninggal dunia dengan tiba-tiba
Dan setelah memahami adanya kematian yang mendadak, dan semakin sering terjadi pada akhir zaman (termasuk zaman kita ini), hendaknya kita mempersiapkan diri. Sesungguhnya kematian akan tetap datang. Tidak ada kekuatan di dunia yang bisa melawan ketetapan Ilahi ini. Dan setelah kematian, setiap orang akan mendapat balasan dari amal yang telah dikerjakannya di dunia.
Syaikh bin Bazz rahimahullah pernah berpesan, "Sudah semestinya kita mempersiapkan diri, bahkan karena inilah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memohon dalam doanya:
للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
"Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, berubahnya kesejahteraan dari-Mu, dan siksa-Mu yang datang tiba-tiba serta dari semua murka-Mu." (HR. Muslim no. 2739)
Seorang yang mulia mengatakan, "Banyak di antara kawanku yang telah melepaskan nyawanya saat memperturutkan syahwatnya, menjadi tawanan kenikmatan, lalai mengingat maut dan hisab. Setelah Allah memberi petunjuk kepadaku untuk mentaati-Nya, aku segera menemui sahabatku untuk menasehatinya. Mengajaknya kepada ketaatan dan memperingatkannya dari kemaksiatan. Tetapi, dia hanya beralasan dengan keadaannya yang masih muda. Dia telah tertipu oleh panjang angan-angan. Maka, demi Allah, kematian telah mendatanginya secara mendadak, sehingga hari ini dia telah berada di dalam tanah, terkubur.
. . . Tetapi, dia hanya beralasan dengan keadaannya yang masih muda. Dia telah tertipu oleh panjang angan-angan. Maka, demi Allah, kematian telah mendatanginya secara mendadak, sehingga hari ini dia telah berada di dalam tanah, terkubur. . .
Dia telah terbelenggu dengan keburukan-keburukan yang telah dilakukannya. Kenikmatan telah hilang darinya. Penyanyi-penyanyi wanita telah meninggalkannya. Tinggallah berbagai tanggungjawab pada lehernya. Dia telah menghadap kepada Al-Jabbar (Allah Yang Maha Perkasa) dengan amalan-amalan orang yang fasik dan durhaka. Semoga Allah melindungiku dan Anda dari catatan amal, seperti catatan amalnya, dan dari akhir kehidupan, seperti akhir kehidupannya. Maka bertakwalah kepada Allah, Ya 'Ibadallah! Janganlah engkau menjadi seperti dia, sedangkan engkau tahu bahwa dunia ini telah berjalan ke belakang, dan akhirat berjalan mendatangi. Ingatlah saat kematian dan perpindahan. Dan (ingatlah) yang akan tergambarkan di hadapanmu, berupa banyaknya keburukan dan sedikitnya kebaikan. Maka, apa yang ingin engkau amalkan pada saat itu, segeralah amalkan sejak hari ini. Dan apa yang ingin engkau tinggalkan saat itu, maka tinggalkanlah sejak sekarang.
. . . Semoga Allah melindungiku dan Anda dari catatan amal, seperti catatan amalnya, dan dari akhir kehidupan, seperti akhir kehidupannya. Maka bertakwalah kepada Allah, Ya 'Ibaadallah!
Maka seandainya kita telah mati, kita dibiarkan. Sesungguhnya kematian itu merupakan kenyamanan bagi seluruh yang hidup. Tetapi jika kita telah mati, kita pasti dibangkitkan. Dan setelah itu, kita akan ditanya tentang segala sesuatu." (Kitab Ahwalul Qiyamah, hal. 4-5. Secara ringkas dinukil dari Mukhtasar Ahkamul Janaiz, karya Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi) [PurWD/voa-islam.com]
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas segala limpahan nikmat-nikmat-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Bagi orang yang umurnya banyak (tua) hendaknya memperbanyak amal shalih. Hal ini karena satu hukum alam yang sudah Allah tetapkan, orang tua lebih dekat kepada kematian daripada anak muda, karena tua adalah puncak dari umur manusia. Orang muda masih ada harapan tua, tapi orang tua tak akan lagi menjadi muda apalagi remaja.
Namun demikian, bukan berarti anak-anak muda boleh berleha-leha karena kematiannya masih lama. Sebab manusia, tua atau muda, tak tahu kapan akan meninggal dunia. Terkadang ada orang yang meninggal saat dia masih muda, terkadang diakhirkan sampai usia tua. Karenanya anak mudapun kudu memperbanyak amal shalih sebagai bekal menghadapi kematian.
Satu pelajaran yang berharga, seusai shalat Dzuhur berjamaah di Masjid Agung Al-Barkah Bekasi, jamaah dimohon untuk ikut menshalatkan jenazah saudara muslim yang sudah dibawa di masjid. Agus Heru Purnomo bin Satimin, namanya. Beliau meninggal dunia tadi malam dalam usia, 41 tahun. Terhitung masih muda, belum terlalu tua. Menurut penuturan salah satu perwakilan keluarga yang usianya lebih tua, keponakannya ini meninggal pada pukul 02.00 dini hari tadi (Senin, 20 November 2011), tanpa di dahului sakit. Maksudnya, meninggal secara tiba-tiba atau mendadak. Dan di akhir zaman, sebagaimana tuliskan kami terdahulu di voa-islam.com, kematian mendadak di akhir zaman semakin marak. Hal ini hendaknya meningkatkan kewaspadaan kita semua, karena khabar dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pastilah benar.
Kematian Datang Tanpa Diundang
Sesungguhnya kematian merupakan misteri bagi manusia. Tak seorangpun yang tahu kapan datangnya. Namun satu kepastian bahwa ajal (waktu kematian) seseorang sudah tercatat jauh hari di Lauhul Mahfudz sebelum manusia diciptakan. Dan ketika seseorang sudah tiba ajalnya, maka tidak bisa diajukan barang sesaat ataupun diundurkan. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al A'raf: 34)
Setelah kematian maka kesempatan beramal telah habis. Manusia akan mendapatkan balasan dari amal-amal perbuatannya di alam kubur, berupa nikmat atau adzab kubur. Dan ketika sudah terjadi kiamat, dia akan dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah.
"Maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."(QS.Al-A’raf:35)
Sedangkan orang yang kafir dan ingkar terhadap kebenaran Islam, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”(QS.Al-A’raf:36)
Kematian Mendadak Semakin Marak di Akhir Zaman
Kasus Meninggal mendadak seperti yang menimpa Agus Heru Purnomo di atas semakin sering kita dengar. Bahkan beberapa public figure seperti Adjie Massaid, Basukin dan lainnya telah mengalaminya. Dan di akhir zaman, jumlahnya semakin banyak sebagimana yang diungkapkan oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf al Wabil dalam kitabnya Asyratus Sa'ah. Beliau menyebutkan, kematian yang datang tiba-tiba atau mendadak merupakan salah satu dari tanda dekatnya kiamat. Hal ini didasarkan pada beberapa kabar hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, salah satunya hadits marfu' dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu,
إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ . . . أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفُجْأَةِ
"Sesungguhnya di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat adalah . . . akan banyak kematian mendadak." (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami' al-Shaghir no. 5899)
Fenomena ini sudah sering kita saksikan pada masa sekarang ini. Orang yang sebelumnya sehat bugar, tiba-tiba ia mati mendadak. Hal ini dibenarkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) berdasarkan sebuah penelitian, setiap tahunnya banyak orang meninggal karena stroke dan serangan jantung, bahkan disebutkan kalau penyakit jantung menempati urutan pertama yang banyak menyebabkan kematian pada saat ini.
Dalam hadits ini terdapat mukjizat ilmiah yang kita benarkan melalui kajian kedokteran yang harus diakui. Mukjizat ini membuktikan bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah utusan Allah yang tidak berbicara berdasar hawa nafsunya, tapi yang beliau sampaikan adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada beliau.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
"Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. Al-Najm: 3-4)
Rasanya orang yang hidup pada zaman Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tak pernah membayangkan fenomena merebaknya kematian mendadak, kecuali berdasarkan wahyu ilahi yang menyingkap fenomena ini.
Maksud Kematian Mendadak
Banyak sebab kematian, tapi kematian itu tetap satu. Hal ini menunjukkan bahwa kematian memiliki sebab, seperti sakit, kecelakaan, atau bunuh diri dan semisalnya. Sedangkan kematian yang tanpa didahului sebab itulah maksud kematian yang mendadak yang belum bisa diprediksi sebelumnya. Seiring majunya ilmu kedokteran, manusia bisa menyingkap tentang sebab kematian seperti kanker, endemik, atau penyakit menular. Penyakit-penyakit ini mengisyaratkan dekatnya kematian, tetapi sebab yang utama adalah mandeknya jantung secara tiba-tiba yang datang tanpa memberi peringatan.
Para ulama mendefinisikan kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung.
Imam al-Bukhari dalam shahihnya membuat sebuah bab,
بَاب مَوْتِ الْفَجْأَةِ الْبَغْتَةِ
"Bab kematian yang datang tiba-tiba". Kemudian beliau menyebutkan hadits Sa'ad bin 'Ubadah Radliyallah 'Anhu, beliau berkata kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia secara mendadak dan aku yakin seandainya ia berbicara sebelum itu, pastilah dia ingin bersedekah. Maka dari itu, apakah dia akan mendapat pahala apabila jika aku bersedekah untuknya?" Beliaupun menjawab, "Ya". (Muttafaq 'alaih)
. . . kematian mendadak sebagai kematian tak terduga yang terjadi dalam waktu yang singkat dan salah satu kasusnya adalah seperti yang dialami orang yang terkena serangan jantung. . .
Kematian Mendadak Dalam Pandangan Ulama
Sebagian ulama salaf tidak menyukai kematian yang datang secara mendadak, karena dikhawatirkan tidak memberi kesempatan seseorang untuk meninggalkan wasiat dan mempersiapkan diri untuk bertaubat dan melakukan amal-amal shalih lainnya. Ketidaksukaan terhadap kematian mendadak ini dinukil Imam Ahmad dan sebagian ulama madzhab Syafi'i.
Sementara Imam al-Nawawi menukil bahwa sejumlah sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan orang-orang shalih meninggal secara mendadak. An-Nawawi mengatakan, "Kematian mendadak itu disukai oleh para muqarrabin (orang yang senantiasa menjaga amal kebaikan karena merasa diawasi oleh Allah)." (Lihat (Fathul Baari: III/245)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Dengan demikian, kedua pendapat itu dapat disatukan." (Fathul Baari: III/255)
Terdapat keterangan yang menguatkan bahwa kematian mendadak bagi seorang mukmin tidak layak dicela. Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu, dia berkata, "Kematian mendadak merupakan keringanan bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang-orang kafir." Ini adalah lafadz Abdul Razaq dan al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir, sedangkan lafadz Ibnu Abi Syaibah, "Kematian mendadak merupakan istirahat (ketenangan) bagi seorang mukmin dan kemurkaan atas orang kafir." (HR. Abdul Razaq dalam al Mushannaf no. 6776, al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir no. no. 8865)
Dari Aisyah Radliyallah 'Anha, berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengenai kematian yang datang tiba-tiba. Lalu beliau menjawab,
رَاحَةٌ لِلْمُؤْمِنِ وَأَخْذَةُ أَسَفٍ لِفَاجِرٍ
"Itu merupakan kenikmatan bagi seorang mukmin dan merupakan bencana bagi orang-orang jahat." (HR. Ahmad dalam al-Musnad no. 25042, al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman no. 10218. Syaikh al Albani mendhaifkannya dalam Dha'if al Jami' no. 5896)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud dan Aisyah Radliyallah 'Anhuma, keduanya berkata, "Kematian yang datang mendadak merupakan bentuk kasih sayang bagi orang mukmin dan kemurkaan bagi orang zalim." (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al Mushannaf III/370, dan al-Baihaqi dalam al-Sunan al Kubra III/379 secara mauquf).
Alangkah indahnya hadits yang dijadikan sebagai penguat oleh Imam al-Baihaqi dalam al Sunan al-Kubra pada kitab "Al-Janaiz" Bab, "Fi Mautil Faj'ah", dari hadits Abu Qatadah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah dilalui iring-iringan jenazah. Beliau lalu bersabda, "Yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa maksud yang istirahat dan yang diistirahatkan darinya?" Beliau menjawab,
الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
"Seorang hamba yang mukmin beristirahat dari keletihan dunia dan kesusahannya, kembali kepada rahmat Allah. Sedangkan hamba yang jahat, para hamba, negeri, pohon dan binatang beristirahat (merasa aman dan tenang) darinya." (HR. Muslim no. 950, Ahmad no. 21531)
Kematian mendadakn yang dialami seorang mukmin adalah kebaikan baginya. Dia terbebas dari hiruk pikuk dunia yang menjemukan dan terbebas dari fitnah-fitnahnya. Sedangkan Kematian mendadak yang dialami seorang fajir merupakan kabar gembira bagi hamba Allah, mereka akan terbebas dari gangguannya. Di antara gangguannya adalah kezalimannya terhadap mereka, kesenangannya melakukan kemungkaran dan jika diingatkan malah menantang dan itu menyulitkan mereka. Jika diingatkan malah menyakiti dan bila didiamkan mereka menjadi berdosa. Sedangkan istirahatnya binatang adalah dikarenakan sang fajir tadi selalu menyakiti dan menyiksanya serta membebani di luar kemampuannya, tidak memberinya makan dan yang lainnya. Sedangkan istirahatnya negeri dan pepohonan adalah karena perbuatan jahat sang fajir hujan tidak turun, dia mengeruk kekayaannya dan tidak mengairinya.
Menyikapi Kematian Mendadak
Bagi orang yang berakal sehat tentu akan mengambil pelajaran dari fenomena yang ia saksikan. Terlebih fenomena tersebut telah disampaikan oleh orang yang terpercaya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ia akan bersegera kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, sebelum kematian itu menjemputnya.
Imam al-Bukahri pernah berkata,
Peliharalah waktu ruku'mu ketika senggang . . . Sebab, boleh jadi kematian akan datang secara tiba-tiba
Betapa banyaknya orang yang sehat dan segar bugar . . . Lantas meninggal dunia dengan tiba-tiba
Dan setelah memahami adanya kematian yang mendadak, dan semakin sering terjadi pada akhir zaman (termasuk zaman kita ini), hendaknya kita mempersiapkan diri. Sesungguhnya kematian akan tetap datang. Tidak ada kekuatan di dunia yang bisa melawan ketetapan Ilahi ini. Dan setelah kematian, setiap orang akan mendapat balasan dari amal yang telah dikerjakannya di dunia.
Syaikh bin Bazz rahimahullah pernah berpesan, "Sudah semestinya kita mempersiapkan diri, bahkan karena inilah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memohon dalam doanya:
للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
"Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, berubahnya kesejahteraan dari-Mu, dan siksa-Mu yang datang tiba-tiba serta dari semua murka-Mu." (HR. Muslim no. 2739)
Seorang yang mulia mengatakan, "Banyak di antara kawanku yang telah melepaskan nyawanya saat memperturutkan syahwatnya, menjadi tawanan kenikmatan, lalai mengingat maut dan hisab. Setelah Allah memberi petunjuk kepadaku untuk mentaati-Nya, aku segera menemui sahabatku untuk menasehatinya. Mengajaknya kepada ketaatan dan memperingatkannya dari kemaksiatan. Tetapi, dia hanya beralasan dengan keadaannya yang masih muda. Dia telah tertipu oleh panjang angan-angan. Maka, demi Allah, kematian telah mendatanginya secara mendadak, sehingga hari ini dia telah berada di dalam tanah, terkubur.
. . . Tetapi, dia hanya beralasan dengan keadaannya yang masih muda. Dia telah tertipu oleh panjang angan-angan. Maka, demi Allah, kematian telah mendatanginya secara mendadak, sehingga hari ini dia telah berada di dalam tanah, terkubur. . .
Dia telah terbelenggu dengan keburukan-keburukan yang telah dilakukannya. Kenikmatan telah hilang darinya. Penyanyi-penyanyi wanita telah meninggalkannya. Tinggallah berbagai tanggungjawab pada lehernya. Dia telah menghadap kepada Al-Jabbar (Allah Yang Maha Perkasa) dengan amalan-amalan orang yang fasik dan durhaka. Semoga Allah melindungiku dan Anda dari catatan amal, seperti catatan amalnya, dan dari akhir kehidupan, seperti akhir kehidupannya. Maka bertakwalah kepada Allah, Ya 'Ibadallah! Janganlah engkau menjadi seperti dia, sedangkan engkau tahu bahwa dunia ini telah berjalan ke belakang, dan akhirat berjalan mendatangi. Ingatlah saat kematian dan perpindahan. Dan (ingatlah) yang akan tergambarkan di hadapanmu, berupa banyaknya keburukan dan sedikitnya kebaikan. Maka, apa yang ingin engkau amalkan pada saat itu, segeralah amalkan sejak hari ini. Dan apa yang ingin engkau tinggalkan saat itu, maka tinggalkanlah sejak sekarang.
. . . Semoga Allah melindungiku dan Anda dari catatan amal, seperti catatan amalnya, dan dari akhir kehidupan, seperti akhir kehidupannya. Maka bertakwalah kepada Allah, Ya 'Ibaadallah!
Maka seandainya kita telah mati, kita dibiarkan. Sesungguhnya kematian itu merupakan kenyamanan bagi seluruh yang hidup. Tetapi jika kita telah mati, kita pasti dibangkitkan. Dan setelah itu, kita akan ditanya tentang segala sesuatu." (Kitab Ahwalul Qiyamah, hal. 4-5. Secara ringkas dinukil dari Mukhtasar Ahkamul Janaiz, karya Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi) [PurWD/voa-islam.com]
''Allah Tidak Beranak'', Hanya Orang Buta yang Tak Bisa Memahaminya
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 03.22
with No comments
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kita kepada keimanan. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para shabatnya.
Jelas dan tegas adalah salah satu dari karaktristik akidah Islam. Semua kaum muslimin bisa memahaminya dengan baik tanpa harus memiliki prestasi pendidikan tinggi. Pemahaman ini tidak hanya didominasi para pemikir, cendekiawan, dai, dan atau kiai. Orang awam yang terbatas pendidikannya juga mampu memahaminya dengan baik, atau wajib memahaminya seperti mereka. Di antaranya memahami bahwa Allah Ta'ala adalah satu-satunya Tuhan yang hak, tidak beranak dan diperanakkan.
Sangat tegas Al-Qur'an menyebutkannya dalam surat yang memiiki keutamaan tinggi, pendek suratnya dan sedikit ayatnya, yaitu surat Al-Ikhlash,
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia"."
Ayat ini turun untuk menjawab tantangan dari para kafir musyrik yang meminta kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk menjelaskan sifat Allah Ta'ala setelah sebelumnya mereka menyebutkan sifat-sifat tuhan mereka. Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh Ikrimah, bahwa orang-orang Yahudi mengatakan, "Kami menyembah Uzair putra Allah." Lalu Nashrani mengatakan, "Kami menyembah al-Masih putra Allah." kemudian Majusi mengatakan, "Kami menyembah matahari dan bulan." Sementara kaum musyrikin mengatakan, "Kami menyembah berhala-berhala." Kemudian Allah menurunkan surat ini kepada Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai jawaban terhadap mereka. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Ketegasan selanjutnya juga disebutkan Al-Qur'an dalam mengingkari tuduhan Allah beranak atau mengambil anak. Karena keyakinan bahwa Allah mengambil anak berkonsekwensi bahwa Allah butuh kepada selain-Nya. Juga mengharuskan keyakinan adanya tuhan selain-Nya, karena seorang anak pasti mewarisi atau memiliki sifat bapaknya, jika bapaknya memiliki sifat ketuhanan maka anaknya juga memiliki sifat serupa. Dan semua ini mustahil bagi Allah Ta'ala, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Syura: 11)
وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
"Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia." (QS. Al-Baqarah: 116-117)
"Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah; ia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (QS. Yunus: 68)
"(Dialah) Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (QS. Furqan: 2)
Al-Qur'an mengisahkan penolakan dan pengingkaran orang yang dianggap dan diyakini sebagai anak Allah untuk menghinakan tuduhan dan keyakinan mereka terhadap Allah dan hamba utusan-Nya,
"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)-nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu." (QS. Al-Maidah: 116-117)
Kemudian Al-Qur'an menggambarkan keyakinan Allah punya anak sebagai perkara yang sangat buruk dan jahat. Allah sangat murka karenanya. Sehingga langitpun hampir pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh karena ucapan yang munkar ini.
"Dan mereka berkata: 'Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak'. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba." (QS. Maryam: 88-93)
Al-Qur'an juga melakukan pendekatan logika untuk membatalkan tuduhan hina terhadap Allah Ta'ala di atas. Yaitu jika ada lebih dari satu Tuhan yang Maha Kuasa, pasti tuhan-tuhan tersebut akan saling berkelahi untuk lebih dominan satu daripada yang lain, sungguh lucu apa yang mereka yakini.
مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu." (QS. Al-Mukminun: 91)
"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan." (QS. Al-Anbiya': 22)
Ketegasan Al-Qur'an dalam menjelaskan akidah tauhid ini adalah dengan menghakimi kepada mereka yang menyatakan Allah itu punya anak lalu menuhankannya.
Allah Ta'ala berfirman,
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun." (QS. Al-Maidah: 72)
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ
"Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga"." (QS. Al-Maidah: 73)
Sehingga Al-Qur'an memberikan arahan untuk menyeret mereka dari kesesatan tersebut dengan mengajak kepada satu kalimat yang disepakati dan dibawa oleh utusan Allah, nabi Isa bin Maryam dan Nabi Muhammad 'Alaihimas Shalatu Was Salam. Yaitu:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)"." (QS. Ali Imran: 64)
Maka jelas dan tegasnya akidah ini, laksana matahari di siang yang tak berawan. Cahayanya sangat terang. Hanya orang buta saja yang tak mampu melihat terangnya cahaya siang.
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj: 46)
Dan siapa yang buta matahatinya di dunia dari jelas dan tegasnya prinsip Islam ini, maka di akhriat ia pun akan menjadi orang buta. "Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)." (QS. Al-Isra': 72)
". . . dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan". Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal." (QS. Thaahaa: 124-127)
. . . Batilnya keyakinan Allah punya anak bagi seorang muslim seperti matahari di siang yang tak berawan. Cahayanya sangat terang. Hanya orang buta saja yang tak mampu melihat terangnya cahaya siang. . .
Maka sungguh hina orang yang pernah belajar ilmu agama dan mendapatkannya, lalu ia tinggalkan pemberian Allah yang berharga tersebut karena cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya. Sehingga Allah membutakan mata hatinya lalu menyesatkannya. Tidak berguna teguran dan peringatan dari orang-orang beriman. Maka mereka menjadi seperti ANJING LAPAR YANG MELIHAT TULANG.
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, MAKA PERUMPAMAANNYA SEPERTI ANJING JIKA KAMU MENGHALAUNYA DIULURKANNYA LIDAHNYA DAN JIKA KAMU MEMBIARKANNYA DIA MENGULURKAN LIDAHNYA (JUGA). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (QS. Al-A'raf: 175-176)
. . . sungguh hina orang yang pernah belajar ilmu agama dan mendapatkannya, lalu ia tinggalkan pemberian Allah yang berharga tersebut karena cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya. . . seperti ANJING LAPAR YANG MELIHAT TULANG.
Maka bagi siapa saja yang telah terlanjur ikut merayakan Natal bersama orang-orang tersesat, segeralah bertaubat, perbaharui iman dan perbanyak istighfar serta beramal sholeh semoga itu menjadi penghapus dari kesalahan yang dangat fatal karena ikut serta acara natal berarti mengakui dan mendukung, bahkan bisa terkategori meridhai, keyakinan Allah beranak atau memiliki anak sehingga ada tuhan yang diakui selain Allah Ta'ala. Maka suci Allah dari apa yang mereka tuduhkan kepada-Nya. Wallahu Ta'ala A'lam.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kita kepada keimanan. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para shabatnya.
Jelas dan tegas adalah salah satu dari karaktristik akidah Islam. Semua kaum muslimin bisa memahaminya dengan baik tanpa harus memiliki prestasi pendidikan tinggi. Pemahaman ini tidak hanya didominasi para pemikir, cendekiawan, dai, dan atau kiai. Orang awam yang terbatas pendidikannya juga mampu memahaminya dengan baik, atau wajib memahaminya seperti mereka. Di antaranya memahami bahwa Allah Ta'ala adalah satu-satunya Tuhan yang hak, tidak beranak dan diperanakkan.
Sangat tegas Al-Qur'an menyebutkannya dalam surat yang memiiki keutamaan tinggi, pendek suratnya dan sedikit ayatnya, yaitu surat Al-Ikhlash,
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia"."
Ayat ini turun untuk menjawab tantangan dari para kafir musyrik yang meminta kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk menjelaskan sifat Allah Ta'ala setelah sebelumnya mereka menyebutkan sifat-sifat tuhan mereka. Hal ini sebagaimana yang diutarakan oleh Ikrimah, bahwa orang-orang Yahudi mengatakan, "Kami menyembah Uzair putra Allah." Lalu Nashrani mengatakan, "Kami menyembah al-Masih putra Allah." kemudian Majusi mengatakan, "Kami menyembah matahari dan bulan." Sementara kaum musyrikin mengatakan, "Kami menyembah berhala-berhala." Kemudian Allah menurunkan surat ini kepada Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai jawaban terhadap mereka. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir)
Ketegasan selanjutnya juga disebutkan Al-Qur'an dalam mengingkari tuduhan Allah beranak atau mengambil anak. Karena keyakinan bahwa Allah mengambil anak berkonsekwensi bahwa Allah butuh kepada selain-Nya. Juga mengharuskan keyakinan adanya tuhan selain-Nya, karena seorang anak pasti mewarisi atau memiliki sifat bapaknya, jika bapaknya memiliki sifat ketuhanan maka anaknya juga memiliki sifat serupa. Dan semua ini mustahil bagi Allah Ta'ala, "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Syura: 11)
وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
"Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia." (QS. Al-Baqarah: 116-117)
"Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah; ia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kamu tidak mempunyai hujah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" (QS. Yunus: 68)
"(Dialah) Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (QS. Furqan: 2)
Al-Qur'an mengisahkan penolakan dan pengingkaran orang yang dianggap dan diyakini sebagai anak Allah untuk menghinakan tuduhan dan keyakinan mereka terhadap Allah dan hamba utusan-Nya,
"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)-nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu." (QS. Al-Maidah: 116-117)
Kemudian Al-Qur'an menggambarkan keyakinan Allah punya anak sebagai perkara yang sangat buruk dan jahat. Allah sangat murka karenanya. Sehingga langitpun hampir pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh karena ucapan yang munkar ini.
"Dan mereka berkata: 'Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak'. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba." (QS. Maryam: 88-93)
Al-Qur'an juga melakukan pendekatan logika untuk membatalkan tuduhan hina terhadap Allah Ta'ala di atas. Yaitu jika ada lebih dari satu Tuhan yang Maha Kuasa, pasti tuhan-tuhan tersebut akan saling berkelahi untuk lebih dominan satu daripada yang lain, sungguh lucu apa yang mereka yakini.
مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ
"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu." (QS. Al-Mukminun: 91)
"Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan." (QS. Al-Anbiya': 22)
Ketegasan Al-Qur'an dalam menjelaskan akidah tauhid ini adalah dengan menghakimi kepada mereka yang menyatakan Allah itu punya anak lalu menuhankannya.
Allah Ta'ala berfirman,
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun." (QS. Al-Maidah: 72)
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ
"Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga"." (QS. Al-Maidah: 73)
Sehingga Al-Qur'an memberikan arahan untuk menyeret mereka dari kesesatan tersebut dengan mengajak kepada satu kalimat yang disepakati dan dibawa oleh utusan Allah, nabi Isa bin Maryam dan Nabi Muhammad 'Alaihimas Shalatu Was Salam. Yaitu:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)"." (QS. Ali Imran: 64)
Maka jelas dan tegasnya akidah ini, laksana matahari di siang yang tak berawan. Cahayanya sangat terang. Hanya orang buta saja yang tak mampu melihat terangnya cahaya siang.
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj: 46)
Dan siapa yang buta matahatinya di dunia dari jelas dan tegasnya prinsip Islam ini, maka di akhriat ia pun akan menjadi orang buta. "Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)." (QS. Al-Isra': 72)
". . . dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan". Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal." (QS. Thaahaa: 124-127)
. . . Batilnya keyakinan Allah punya anak bagi seorang muslim seperti matahari di siang yang tak berawan. Cahayanya sangat terang. Hanya orang buta saja yang tak mampu melihat terangnya cahaya siang. . .
Maka sungguh hina orang yang pernah belajar ilmu agama dan mendapatkannya, lalu ia tinggalkan pemberian Allah yang berharga tersebut karena cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya. Sehingga Allah membutakan mata hatinya lalu menyesatkannya. Tidak berguna teguran dan peringatan dari orang-orang beriman. Maka mereka menjadi seperti ANJING LAPAR YANG MELIHAT TULANG.
"Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, MAKA PERUMPAMAANNYA SEPERTI ANJING JIKA KAMU MENGHALAUNYA DIULURKANNYA LIDAHNYA DAN JIKA KAMU MEMBIARKANNYA DIA MENGULURKAN LIDAHNYA (JUGA). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (QS. Al-A'raf: 175-176)
. . . sungguh hina orang yang pernah belajar ilmu agama dan mendapatkannya, lalu ia tinggalkan pemberian Allah yang berharga tersebut karena cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya. . . seperti ANJING LAPAR YANG MELIHAT TULANG.
Maka bagi siapa saja yang telah terlanjur ikut merayakan Natal bersama orang-orang tersesat, segeralah bertaubat, perbaharui iman dan perbanyak istighfar serta beramal sholeh semoga itu menjadi penghapus dari kesalahan yang dangat fatal karena ikut serta acara natal berarti mengakui dan mendukung, bahkan bisa terkategori meridhai, keyakinan Allah beranak atau memiliki anak sehingga ada tuhan yang diakui selain Allah Ta'ala. Maka suci Allah dari apa yang mereka tuduhkan kepada-Nya. Wallahu Ta'ala A'lam.
Jaza' Ukhrawi (Balasan di Akhirat) Harus Lebih Diprioritaskan
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 03.21
with No comments
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb yang senantiasa kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kita dan jeleknya amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang sanggup menyesatkannya. Sebaliknya, siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tak seorangpun yang sanggup memberinya petunjuk.
Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, penyampai risalah, pembawa kebenaran, dan suri teladan dalam kehidupan berislam. Semoga shalawat dan salam juga dilimpahkan kepada keluarga, para sahabat, dan siapa yang mengikuti sunnah-sunnahnya hingga akhir zaman.
Meyakini adanya kehidupan akhirat dan Jaza' Ukharwi (balasan di akhirat) merupakan bagian dari prinsip pokok ajaran Islam. Setiap muslim di negeri bagian timur dan baratnya wajib meyakininya. Al-Qur'an dan al-Sunnah penuh dengan kabar-kabar tentang adanya kehidupan sesudah kematian, perhitungan amal dan tempat persinggahan terakhir; surga dan neraka, di antaranya:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al-Taghabun: 7)
Bagian dari karaktristik syariat Islam, menjanjikan Jaza' Ukhrawi kepada umatnya. Lebih mengutamakan dan mengedepankannya daripada Jaza' Duniawi (balasan di dunia). Sehingga janji baik dan ancaman di akhirat lebih ditekankan. Sementara hukuman di dunia, diancamkan kepada mereka yang kurang percaya kepada negeri akhirat, yaitu dari kalangan munafikin, atau orang yang menampakkan kekufuran dan orang yang lemah iman di hadapan maksiat. Kemudian syariat datang dengan memaksanya berhenti dari kemaksiatan tersebut dan menghapuskan kesalahan tersebut supaya ia selamat dari azab ukhrawi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. " (QS. Al-Tahrim: 6)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
"Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, " (QS. Al-Tahrim: 8)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Bagi seorang mukmin, persoalan akhirat mendapat perhatian besar. Karena akhirat adalah negeri pembalasan amal. Di sanalah mereka akan kekal. Siapa yang beruntung di sana, dialah yang benar-benar sukses. Sebaliknya, siapa yang buntung (celaka) di sana, ia benar-benar orang yang merugi.
"Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS. Al-Anfal:37)
Dan orang-orang yang beriman berkata: "Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang lalim itu berada dalam azab yang kekal." (QS. Al-Syuura: 45)
"Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari api)." (QS. Al-Zumar: 15-16)
Kesuksesan hidup di akhirat adalah saat seseorang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga. Dan untuk meraihnya, mereka harus menundukkan nafsunya untuk sungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah, melakukan hal-hal yang berlawanan dengan hawa nafsunya, menjauhi kemalasan dan perbuatan maksiat yang disukai oleh jiwa manusia.
. . . Siapa yang beruntung di sana (akhirat), dialah yang benar-benar sukses. Sebaliknya, siapa yang buntung (celaka) di sana, ia benar-benar orang yang merugi. . .
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
"Neraka diliputi oleh syahwat sedangkan surga diliputi oleh sesuatu yang tidak disuka." (Muttafaq 'Alaih, lafaz milik Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu)
Lafaz hadits di atas merupakan bagian dari Jawami' Kalim (kalimat ringkas yang penuh makna) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam mencela syahwat walau jiwa ini cenderung kepadanya, juga dalam menganjurkan berbuat ketaatan walau jiwa ini tidak menyukainya dan merasa berat menjalankannya. Di mana seseorang yang berkeinginan masuk surga itu harus mampu menundukkan diri/jiwanya untuk menjalankan beban syariat dari Allah dalam bentuk mengerjakan perintah atau meninggalkan larangan dengan perkataan maupun perbuatan. Dan maksud surga diliputi dengan makarih (sesuatu yang tak disuka) karena beratnya beban yang harus ditanggung dan pelaksanaannya yang sulit, bersabar atas musibah dan menerima keputusan Allah dengan lapang dada.
. . . Surga diliputi dengan makarih: karena beratnya beban yang harus ditanggung dan pelaksanaannya yang sulit, bersabar atas musibah dan menerima keputusan Allah dengan lapang dada. . .
Hal ini berbalik keadaan ahli neraka, ia bebas berbuat apa saja dan menikmati dunia sekehendaknya tanpa memperhatikan larangan-larangan syariat. Orang yang ingin masuk neraka juga tak perlu repot memenuhi panggilan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadhan. Jika ingin mabuk, maka ia mabuk. Jika ingin zina, maka ia berzina. Jika ingin mencuri, ia mencuri, jika mau korupsi, ia korupsi. Tak perlu ia memperhatikan perintah Allah dan tak perlu ia mengindahkan larangan-Nya. Namun, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka yang siksanya tak ada bandingnya.
Allah Ta’ala berfirman:
فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ
"Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.” (QS. Al-Hajj: 19)
Para penghuni neraka akan dikenakan untuk mereka pakaian dari aspal yang lalu dibakar dengan api neraka . Tidak cukup itu saja, al-hamim (air yang sedang mendidih dan sangat panas) akan disiramkan ke atas kepala mereka, kita berlindung kepada Allah dari menjadi ahli neraka!
Kemudian Allah melanjutkan,
يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ
"Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka).” (QS. Al-Hajj: 20) betapa dahsyatnya panas air tersebut. Saat disiramkan di atas kepala, maka air tersebut akan menghancurkan isi perut; daging, lemak, dan ususnya. Yakni isi perutnya meleleh karena panasnya air neraka yang mendidih tersebut. Sehinggapun kulit mereka juga meleleh. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari beratnya siksa neraka.
Selanjutnya Allah berfirman,
وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ
"Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.” (QS. Al-Hajj: 21)
Maqami’ itu semacam palu atau martil dari besi yang dipukulkan ke kepala mereka. Maka ketika mereka hendak keluar dari neraka, dipukulkan martil-martil tersebut di atas kepala mereka supaya siksa tidak terputus dari mereka. “Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): "Rasailah adzab yang membakar ini".” (QS. Al-Hajj: 22)
Dari sini seorang muslim memiliki sikap yang jelas saat menghadapi pilihan antara dunia dan akhirat. Ia lebih memprioritaskan kehidupan akhiratnya daripada dunianya. Karena bagi dia, "Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'laa: 17).
Oleh sebab itu, saat berhadapan dengan pilihan antara tunduk kepada aturan hukum Allah atau mengikuti ketetapan-ketatapan hukum yang bersumber dari akal dan nafsu manusia, maka ia akan lebih memprioritaskan ketundukan kepada Allah Ta'ala. Karena Allah-lah penguasa pada hari pembalasan di akhriat kelak. Dia menjanjikan surga bagi yang taat dan mengancam neraka bagi yang ingkar kepada-Nya. Sementara nafsu manusia hanya menjanjikan kepuasan duniawi semata. Tidak ada jaza' ukhrawi baik dalam bentuk penghargaan atau ancaman yang dijanjikan.
Satu contoh yang dapat dijadikan pelajaran, seorang muslim akan lebih senang tunduk kepada aturan ketetapan Allah dalam urusan warisan dengan ketentuan-ketentuan jatah pembagian dari Allah Ta'ala. Yaitu jatah untuk laki-laki dua kali lipat daripada perempuan (2:1). Karena ketetapan ini merupakan ketentuan dari Allah Ta'ala sebagai bagian dari hukum-Nya yang wajib dipatuhi manusia. Melalui ketetapan ini, Allah menguji para hamba-Nya akan ketundukan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika menerima dengan lapang dada dengan keputusan ini maka ia termasuk orang yang taat sehinggga dijanjikan masuk surga.
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"(Hukum-hukum waris tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar." (QS. Al-Nisa': 13)
Imam Abu Ja'far al-Thabari menjelaskan maksud QS. Al-Nisa': 12 di atas, pembagian warisan ini adalah sebagai pasal untuk membedakan antara ketaatan kepada-Nya dan kemaksiatan terhadap-Nya. Dan ketetapan di atas sebagai batasan bagi manusia agar tidak melampauinya. Semua ini untuk Dia mengetahui siapa dari mereka yang taat kepada-Nya dan siapa yang bermaksiat terhadap perintahkan-Nya dalam pembagian warisan.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mejelaskan tentang maksud ayat di atas: "Inilah ketentuan-ketentuan dan ketetapan-ketetapan yang telah Allah jadikan untuk ahli waris sesuai dengan hubungan kekerabatan mereka dengan mayit dan butuhnya mereka kepadanya serta rasa kehilangan mereka dengan kepergiannya; merupakan HUDUDULLAH (batasan-batasan dari Allah), maka janganlah kalian melampaui batas dan jangan pula melanggarnya. Oleh karena ini Dia berfirman, "Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya." Artinya, dalam masalah tersebut. Sehingga ia tidak menambahkan atau mengurangi sebagian ahli waris dengan tipuan atau cara-cara lain. Akan tetapi, ia menetapkannya sesuai hukum Allah, ketentuan dan pembagian-Nya."
Bagi mereka yang taat, maka Allah janjikan, "Niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar."
Adapun orang yang tidak terima dengan tetapan pembagian dari Allah ini dan menurutkan hawa nafsunya dengan melanggar, melampaui batas, mengurangi, atau mencari ketetapan lain dari manusia, maka ia telah melanggar HUDUDULLAH di atas. Ia terkategori orang durhaka (maksiat) kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan baginya adalah siksa neraka dan azab yang menghinakan.
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
"Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS. Al-Nisa': 13-14)
Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya saat menerangkan ayat ini, "Sementara bagi orang yang tidak mengindahkan ketentuan dan jatah yang telah Allah tetapkan dari hukum waris, "niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." Hal ini karena ia tidak menegakkan hukum Allah, untuk itu dibalaslah ia dengan kehinaan berupa azab yang sangat pedih." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap QS. Al-Nisa': 13-14)
Imam Abu Ja'far al-Thabari rahimahullah berkata: Sementara maksud, " Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya", yakni dalam mengerjakan perintah keduanya berupa pembagian warisan yang telah keduanya perintahkan, serta perintah-perintah Allah lainnya. Ia menyimpang dari perintah keduanya kepada apa yang keduanya larang.
"Dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya" yakni melanggar batas-batas ketaatan yang telah Dia jadikan sebagai pembatas dengan kemaksiatan terhadap-Nya kepada larangan-Nya, berupa pembagian harta peninggalan mayit kalian di antara ahli warisnya, dan batasan-batasan Allah lainnya.
Jika itu dilakukan maka, "niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya," yakni ia kekal di dalamnya untuk selama-lamanya, tidak mati dan tidak dikeluarkan darinya untuk selama-lamanya. "dan baginya siksa yang menghinakan," yakni baginya siksa yang menghinakan dan merendahkan bagi orang yang disiksa dengannya. (Diringkaskan dari Tafsir Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Abu Ja'far al-Thabari)
Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam Aisar Tafasir-nya menyebutkan, "Dan siapa yang durhaka kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya dengan melanggar batasan-batasan Allah di atas dan (batasan lainnya dari syariat dan hukum Allah) dan mati di atasnya, maka balasannya adalah Allah akan memasukkannya ke dalam neraka yang ia kekal di dalamnya dan baginya azab yang menghinakan." Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb yang senantiasa kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kita dan jeleknya amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang sanggup menyesatkannya. Sebaliknya, siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tak seorangpun yang sanggup memberinya petunjuk.
Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, penyampai risalah, pembawa kebenaran, dan suri teladan dalam kehidupan berislam. Semoga shalawat dan salam juga dilimpahkan kepada keluarga, para sahabat, dan siapa yang mengikuti sunnah-sunnahnya hingga akhir zaman.
Meyakini adanya kehidupan akhirat dan Jaza' Ukharwi (balasan di akhirat) merupakan bagian dari prinsip pokok ajaran Islam. Setiap muslim di negeri bagian timur dan baratnya wajib meyakininya. Al-Qur'an dan al-Sunnah penuh dengan kabar-kabar tentang adanya kehidupan sesudah kematian, perhitungan amal dan tempat persinggahan terakhir; surga dan neraka, di antaranya:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al-Taghabun: 7)
Bagian dari karaktristik syariat Islam, menjanjikan Jaza' Ukhrawi kepada umatnya. Lebih mengutamakan dan mengedepankannya daripada Jaza' Duniawi (balasan di dunia). Sehingga janji baik dan ancaman di akhirat lebih ditekankan. Sementara hukuman di dunia, diancamkan kepada mereka yang kurang percaya kepada negeri akhirat, yaitu dari kalangan munafikin, atau orang yang menampakkan kekufuran dan orang yang lemah iman di hadapan maksiat. Kemudian syariat datang dengan memaksanya berhenti dari kemaksiatan tersebut dan menghapuskan kesalahan tersebut supaya ia selamat dari azab ukhrawi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. " (QS. Al-Tahrim: 6)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
"Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, " (QS. Al-Tahrim: 8)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Bagi seorang mukmin, persoalan akhirat mendapat perhatian besar. Karena akhirat adalah negeri pembalasan amal. Di sanalah mereka akan kekal. Siapa yang beruntung di sana, dialah yang benar-benar sukses. Sebaliknya, siapa yang buntung (celaka) di sana, ia benar-benar orang yang merugi.
"Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS. Al-Anfal:37)
Dan orang-orang yang beriman berkata: "Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang lalim itu berada dalam azab yang kekal." (QS. Al-Syuura: 45)
"Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari api)." (QS. Al-Zumar: 15-16)
Kesuksesan hidup di akhirat adalah saat seseorang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga. Dan untuk meraihnya, mereka harus menundukkan nafsunya untuk sungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah, melakukan hal-hal yang berlawanan dengan hawa nafsunya, menjauhi kemalasan dan perbuatan maksiat yang disukai oleh jiwa manusia.
. . . Siapa yang beruntung di sana (akhirat), dialah yang benar-benar sukses. Sebaliknya, siapa yang buntung (celaka) di sana, ia benar-benar orang yang merugi. . .
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
"Neraka diliputi oleh syahwat sedangkan surga diliputi oleh sesuatu yang tidak disuka." (Muttafaq 'Alaih, lafaz milik Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu)
Lafaz hadits di atas merupakan bagian dari Jawami' Kalim (kalimat ringkas yang penuh makna) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam mencela syahwat walau jiwa ini cenderung kepadanya, juga dalam menganjurkan berbuat ketaatan walau jiwa ini tidak menyukainya dan merasa berat menjalankannya. Di mana seseorang yang berkeinginan masuk surga itu harus mampu menundukkan diri/jiwanya untuk menjalankan beban syariat dari Allah dalam bentuk mengerjakan perintah atau meninggalkan larangan dengan perkataan maupun perbuatan. Dan maksud surga diliputi dengan makarih (sesuatu yang tak disuka) karena beratnya beban yang harus ditanggung dan pelaksanaannya yang sulit, bersabar atas musibah dan menerima keputusan Allah dengan lapang dada.
. . . Surga diliputi dengan makarih: karena beratnya beban yang harus ditanggung dan pelaksanaannya yang sulit, bersabar atas musibah dan menerima keputusan Allah dengan lapang dada. . .
Hal ini berbalik keadaan ahli neraka, ia bebas berbuat apa saja dan menikmati dunia sekehendaknya tanpa memperhatikan larangan-larangan syariat. Orang yang ingin masuk neraka juga tak perlu repot memenuhi panggilan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadhan. Jika ingin mabuk, maka ia mabuk. Jika ingin zina, maka ia berzina. Jika ingin mencuri, ia mencuri, jika mau korupsi, ia korupsi. Tak perlu ia memperhatikan perintah Allah dan tak perlu ia mengindahkan larangan-Nya. Namun, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka yang siksanya tak ada bandingnya.
Allah Ta’ala berfirman:
فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ
"Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.” (QS. Al-Hajj: 19)
Para penghuni neraka akan dikenakan untuk mereka pakaian dari aspal yang lalu dibakar dengan api neraka . Tidak cukup itu saja, al-hamim (air yang sedang mendidih dan sangat panas) akan disiramkan ke atas kepala mereka, kita berlindung kepada Allah dari menjadi ahli neraka!
Kemudian Allah melanjutkan,
يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ
"Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka).” (QS. Al-Hajj: 20) betapa dahsyatnya panas air tersebut. Saat disiramkan di atas kepala, maka air tersebut akan menghancurkan isi perut; daging, lemak, dan ususnya. Yakni isi perutnya meleleh karena panasnya air neraka yang mendidih tersebut. Sehinggapun kulit mereka juga meleleh. Kita memohon keselamatan kepada Allah dari beratnya siksa neraka.
Selanjutnya Allah berfirman,
وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ
"Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi.” (QS. Al-Hajj: 21)
Maqami’ itu semacam palu atau martil dari besi yang dipukulkan ke kepala mereka. Maka ketika mereka hendak keluar dari neraka, dipukulkan martil-martil tersebut di atas kepala mereka supaya siksa tidak terputus dari mereka. “Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): "Rasailah adzab yang membakar ini".” (QS. Al-Hajj: 22)
Dari sini seorang muslim memiliki sikap yang jelas saat menghadapi pilihan antara dunia dan akhirat. Ia lebih memprioritaskan kehidupan akhiratnya daripada dunianya. Karena bagi dia, "Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'laa: 17).
Oleh sebab itu, saat berhadapan dengan pilihan antara tunduk kepada aturan hukum Allah atau mengikuti ketetapan-ketatapan hukum yang bersumber dari akal dan nafsu manusia, maka ia akan lebih memprioritaskan ketundukan kepada Allah Ta'ala. Karena Allah-lah penguasa pada hari pembalasan di akhriat kelak. Dia menjanjikan surga bagi yang taat dan mengancam neraka bagi yang ingkar kepada-Nya. Sementara nafsu manusia hanya menjanjikan kepuasan duniawi semata. Tidak ada jaza' ukhrawi baik dalam bentuk penghargaan atau ancaman yang dijanjikan.
Satu contoh yang dapat dijadikan pelajaran, seorang muslim akan lebih senang tunduk kepada aturan ketetapan Allah dalam urusan warisan dengan ketentuan-ketentuan jatah pembagian dari Allah Ta'ala. Yaitu jatah untuk laki-laki dua kali lipat daripada perempuan (2:1). Karena ketetapan ini merupakan ketentuan dari Allah Ta'ala sebagai bagian dari hukum-Nya yang wajib dipatuhi manusia. Melalui ketetapan ini, Allah menguji para hamba-Nya akan ketundukan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika menerima dengan lapang dada dengan keputusan ini maka ia termasuk orang yang taat sehinggga dijanjikan masuk surga.
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"(Hukum-hukum waris tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar." (QS. Al-Nisa': 13)
Imam Abu Ja'far al-Thabari menjelaskan maksud QS. Al-Nisa': 12 di atas, pembagian warisan ini adalah sebagai pasal untuk membedakan antara ketaatan kepada-Nya dan kemaksiatan terhadap-Nya. Dan ketetapan di atas sebagai batasan bagi manusia agar tidak melampauinya. Semua ini untuk Dia mengetahui siapa dari mereka yang taat kepada-Nya dan siapa yang bermaksiat terhadap perintahkan-Nya dalam pembagian warisan.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mejelaskan tentang maksud ayat di atas: "Inilah ketentuan-ketentuan dan ketetapan-ketetapan yang telah Allah jadikan untuk ahli waris sesuai dengan hubungan kekerabatan mereka dengan mayit dan butuhnya mereka kepadanya serta rasa kehilangan mereka dengan kepergiannya; merupakan HUDUDULLAH (batasan-batasan dari Allah), maka janganlah kalian melampaui batas dan jangan pula melanggarnya. Oleh karena ini Dia berfirman, "Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya." Artinya, dalam masalah tersebut. Sehingga ia tidak menambahkan atau mengurangi sebagian ahli waris dengan tipuan atau cara-cara lain. Akan tetapi, ia menetapkannya sesuai hukum Allah, ketentuan dan pembagian-Nya."
Bagi mereka yang taat, maka Allah janjikan, "Niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar."
Adapun orang yang tidak terima dengan tetapan pembagian dari Allah ini dan menurutkan hawa nafsunya dengan melanggar, melampaui batas, mengurangi, atau mencari ketetapan lain dari manusia, maka ia telah melanggar HUDUDULLAH di atas. Ia terkategori orang durhaka (maksiat) kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan baginya adalah siksa neraka dan azab yang menghinakan.
وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
"Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS. Al-Nisa': 13-14)
Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya saat menerangkan ayat ini, "Sementara bagi orang yang tidak mengindahkan ketentuan dan jatah yang telah Allah tetapkan dari hukum waris, "niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." Hal ini karena ia tidak menegakkan hukum Allah, untuk itu dibalaslah ia dengan kehinaan berupa azab yang sangat pedih." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap QS. Al-Nisa': 13-14)
Imam Abu Ja'far al-Thabari rahimahullah berkata: Sementara maksud, " Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya", yakni dalam mengerjakan perintah keduanya berupa pembagian warisan yang telah keduanya perintahkan, serta perintah-perintah Allah lainnya. Ia menyimpang dari perintah keduanya kepada apa yang keduanya larang.
"Dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya" yakni melanggar batas-batas ketaatan yang telah Dia jadikan sebagai pembatas dengan kemaksiatan terhadap-Nya kepada larangan-Nya, berupa pembagian harta peninggalan mayit kalian di antara ahli warisnya, dan batasan-batasan Allah lainnya.
Jika itu dilakukan maka, "niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya," yakni ia kekal di dalamnya untuk selama-lamanya, tidak mati dan tidak dikeluarkan darinya untuk selama-lamanya. "dan baginya siksa yang menghinakan," yakni baginya siksa yang menghinakan dan merendahkan bagi orang yang disiksa dengannya. (Diringkaskan dari Tafsir Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Abu Ja'far al-Thabari)
Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi dalam Aisar Tafasir-nya menyebutkan, "Dan siapa yang durhaka kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya dengan melanggar batasan-batasan Allah di atas dan (batasan lainnya dari syariat dan hukum Allah) dan mati di atasnya, maka balasannya adalah Allah akan memasukkannya ke dalam neraka yang ia kekal di dalamnya dan baginya azab yang menghinakan." Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]
Kondisi Orang yang Paling Terakhir Masuk Surga
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 03.20
with No comments
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi yang menjadi rahmat bagi semesta alam, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Kenikmatan surga tidak terkira. Ia menjadi puncak dari sebuah kenikmatan. Nikmat sedikit di sana lebih baik dari dunia seisinya. Sehingga orang yang cerdas akan mengejar kenikmatannya walau ia harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga miliknya dari kenikmatan dunia.
Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang kenikmatan surga: Allah Ta'ala berfirman,
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
"Aku telah sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan yang tak ada mata yang pernah melihatnya, telingan mendengarnya, dan terbersit dalam hati manusia."
Kemudian Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu melanjutkan, "Bacalah jika kalian mau:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat menanti yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Sajdah: 17)
Dalam al-Shahih disebutkan, satu tempat cemeti di surga itu lebih baik dari dunia seisinya. Dalam riwayat lain, busur anak panah penghuni surga itu lebih baik dari apa yang karenanya matahari terbit dan tenggelam.
Sementara kedudukan penghuni surga yang paling rendah adalah seseorang yang memiliki sepuluh ribu pelayan. Di tangan setiap pelayan terdapat dua piring. Satu piring terbuat dari emas. Satunya lagi terbuat dari perak. (HR. Al-Thabrani dengan sanad kuat. Dinukil dari Sifat al-Jannah, Syaikh Wahid Abdussalam Baliy)
Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan, orang yang mendapat tempat paling rendah di surga memiliki seperti yang dimiliki raja dari seorang raja di dunia, bahkan sepuluh kali lipatnya. Ia memperoleh setiap yang diinginkannya dan apa saja yang membuatnya bahagia.
Menguatkan hebatnya kenikmatan surga yang tak seorang pun tahan untuk tidak mendapatkannya. Kenikmatan tersebut tak mampu diucapkan dengan kata-kata, dituliskan dengan pena, dan dibayangkan dalam angan. Hal tersebut diterangkan dalam hadits yang dikeluarkan Imam al-Bukhari, Muslim, dan lainnya yang membicarakan tentang orang yang terakhir masuk surga dan berada pada tempat terendah di sana. Ia adalah orang terakhir yang dikeluarkan dari neraka dengan rahmat Allah Ta'ala, disebabkan bekas sujudnya yang tidak dilalap api neraka. Saat dikeluarkan, kondisinya gosong. Lalu ia disiram dengan air kehidupan sehingga tumbuh seperti benih yang disiram air.
Kemudian Allah Ta'ala memutuskan peradilan di antara hamba-hamba-Nya. Maka ada seorang laki-laki yang berada di antara surga dan neraka dengan wajah yang menghadap ke neraka. ketika itu ia meminta kepada Allah Ta'ala agar wajahnya dipalingkan dari neraka karena teracuni oleh anginnya dan terbakar oleh hawa panasnya. Lalu ia disumpah agar tidak meminta yang lainnya saat sudah diselamatkan. Ia pun menyanggupinya. Lalu Allah Ta'ala memalingkan wajahnya dari neraka dan dihadapkan ke surga sehingga ia bisa melihat kemewahannya. Maka ia terdiam. Kemudian ia meminta kepada Allah Ta'ala supaya didekatkan kepada pintu surga.
Ketika didekatkan ke pintu surga ia disumpah agar tidak meminta yang lainnya. Ia pun menyanggupinya. Ketika ia dibawa mendekat ke pintu surga dan telah sampai di sana, ia melihat keindahan pemandangan surga dan kesenangan di dalamnya. Ia pun terdiam. Kemudian ia meminta agar di masukkan ke dalamnya, padahal ia telah bersumpah untuk tidak meminta yang lainnya.
Dia meminta agar dimasukkan ke dalam surga agar tidak menjadi makhluk Allah yang sengsara. Allah Ta'ala tertawa karenanya. Lalu mengizinkannya masuk ke dalam surga. Di katakan kepadanya, "Berhayallah!" Lalu ia berhayal. Saat sudah sadar, Allah Ta'ala berfirman kepadanya, "Kamu menghayalkan (mengangan-angankan) ini dan itu. Semua itu yang semisalnya menjadi milikmu." Orang yang mendapatkan kenikmatan sepuluh kali lipat kenikmatan dunia ini adalah orang yang terakhir masuk surga dan paling rendah kedudukannya di surga.
Semua ini hendaknya membuat rindu orang-orang beriman kepada balasan baik di akhirat, yakni mendapat kenikmatan surga. Dunia yang fana dan sementara ini tidak memalingkan darinya. Sehingga seorang mukmin memiliki semboyan,
اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشُ الآخِرَهْ
"Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat. . ." yang maksudnya: Ya Allah tidak ada kehidupan yang kekal dan yang kami cari kecuali kehidupan akhirat. Wallahu Ta'ala a'lam. [PurWD/voa-islam.com]
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi yang menjadi rahmat bagi semesta alam, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Kenikmatan surga tidak terkira. Ia menjadi puncak dari sebuah kenikmatan. Nikmat sedikit di sana lebih baik dari dunia seisinya. Sehingga orang yang cerdas akan mengejar kenikmatannya walau ia harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga miliknya dari kenikmatan dunia.
Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang kenikmatan surga: Allah Ta'ala berfirman,
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
"Aku telah sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan yang tak ada mata yang pernah melihatnya, telingan mendengarnya, dan terbersit dalam hati manusia."
Kemudian Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu melanjutkan, "Bacalah jika kalian mau:
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat menanti yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Sajdah: 17)
Dalam al-Shahih disebutkan, satu tempat cemeti di surga itu lebih baik dari dunia seisinya. Dalam riwayat lain, busur anak panah penghuni surga itu lebih baik dari apa yang karenanya matahari terbit dan tenggelam.
Sementara kedudukan penghuni surga yang paling rendah adalah seseorang yang memiliki sepuluh ribu pelayan. Di tangan setiap pelayan terdapat dua piring. Satu piring terbuat dari emas. Satunya lagi terbuat dari perak. (HR. Al-Thabrani dengan sanad kuat. Dinukil dari Sifat al-Jannah, Syaikh Wahid Abdussalam Baliy)
Sedangkan dalam riwayat Muslim disebutkan, orang yang mendapat tempat paling rendah di surga memiliki seperti yang dimiliki raja dari seorang raja di dunia, bahkan sepuluh kali lipatnya. Ia memperoleh setiap yang diinginkannya dan apa saja yang membuatnya bahagia.
Menguatkan hebatnya kenikmatan surga yang tak seorang pun tahan untuk tidak mendapatkannya. Kenikmatan tersebut tak mampu diucapkan dengan kata-kata, dituliskan dengan pena, dan dibayangkan dalam angan. Hal tersebut diterangkan dalam hadits yang dikeluarkan Imam al-Bukhari, Muslim, dan lainnya yang membicarakan tentang orang yang terakhir masuk surga dan berada pada tempat terendah di sana. Ia adalah orang terakhir yang dikeluarkan dari neraka dengan rahmat Allah Ta'ala, disebabkan bekas sujudnya yang tidak dilalap api neraka. Saat dikeluarkan, kondisinya gosong. Lalu ia disiram dengan air kehidupan sehingga tumbuh seperti benih yang disiram air.
Kemudian Allah Ta'ala memutuskan peradilan di antara hamba-hamba-Nya. Maka ada seorang laki-laki yang berada di antara surga dan neraka dengan wajah yang menghadap ke neraka. ketika itu ia meminta kepada Allah Ta'ala agar wajahnya dipalingkan dari neraka karena teracuni oleh anginnya dan terbakar oleh hawa panasnya. Lalu ia disumpah agar tidak meminta yang lainnya saat sudah diselamatkan. Ia pun menyanggupinya. Lalu Allah Ta'ala memalingkan wajahnya dari neraka dan dihadapkan ke surga sehingga ia bisa melihat kemewahannya. Maka ia terdiam. Kemudian ia meminta kepada Allah Ta'ala supaya didekatkan kepada pintu surga.
Ketika didekatkan ke pintu surga ia disumpah agar tidak meminta yang lainnya. Ia pun menyanggupinya. Ketika ia dibawa mendekat ke pintu surga dan telah sampai di sana, ia melihat keindahan pemandangan surga dan kesenangan di dalamnya. Ia pun terdiam. Kemudian ia meminta agar di masukkan ke dalamnya, padahal ia telah bersumpah untuk tidak meminta yang lainnya.
Dia meminta agar dimasukkan ke dalam surga agar tidak menjadi makhluk Allah yang sengsara. Allah Ta'ala tertawa karenanya. Lalu mengizinkannya masuk ke dalam surga. Di katakan kepadanya, "Berhayallah!" Lalu ia berhayal. Saat sudah sadar, Allah Ta'ala berfirman kepadanya, "Kamu menghayalkan (mengangan-angankan) ini dan itu. Semua itu yang semisalnya menjadi milikmu." Orang yang mendapatkan kenikmatan sepuluh kali lipat kenikmatan dunia ini adalah orang yang terakhir masuk surga dan paling rendah kedudukannya di surga.
Semua ini hendaknya membuat rindu orang-orang beriman kepada balasan baik di akhirat, yakni mendapat kenikmatan surga. Dunia yang fana dan sementara ini tidak memalingkan darinya. Sehingga seorang mukmin memiliki semboyan,
اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشُ الآخِرَهْ
"Ya Allah, tidak ada kehidupan kecuali kehidupan akhirat. . ." yang maksudnya: Ya Allah tidak ada kehidupan yang kekal dan yang kami cari kecuali kehidupan akhirat. Wallahu Ta'ala a'lam. [PurWD/voa-islam.com]
Beginilah Cara Mencintai Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 03.19
with No comments
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam termasuk ushul iman (pokok keimanan) yang bergandengan dengan cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla. Allah telah menyebutkannya dalam satu ayat dengan menyertakan ancaman bagi orang yang lebih mendahulukan kecintaan kepada kerabat, harta, negara serta lainnya daripada cinta kepada keduanya.
Allah Ta'ala berfirman,
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
"Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. Al-Taubah: 24)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa'di dalam Tafsirnya Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsiir Kalaam al-Mannan berkata, "Dan ayat yang mulia ini adalah dalil paling agung menunjukkan wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, mendahulukannya atas kecintaan segala sesuatu. Juga menunjukkan ancaman keras dan kebencian sangat atas orang yang lebih mencintai salah satu dari yang telah disebutkan daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya."
Kemudian Syaikh Sa'di menyebutkan tanda-tandanya, "Adalah apabila hadir padanya dua perkara yang bertentangan. Salah satunya dicintai Allah dan Rasul-Nya dan tidak disukai oleh jiwanya. Sementara yang lain disukai dan diinginkan oleh jiwanya. Tapi ia mengesampingkan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Atau ia menguranginya. Maka jika ia mengutamakan apa yang disuka oleh nafsunya atas apa yang Allah cintai, hal itu menunjukkan bahwa ia berlaku zalim dan meninggalkan apa diwajibkan atasnya."
Keimanan seorang muslim tidak akan sempurna kecuali dengan mencintai utusan Allah kepada mereka, yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Bahkan, tidak sah imannya kecuali dengan lebih menghormati kedudukan beliau daripada ayahnya, anaknya, dan orang telah berbuat baik dan membantunya. Siapa yang tidak memiliki aqidah seperti ini, maka bukan seorang mukmin.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orangtuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurut Ibnu Baththal, makna hadits ini adalah orang yang sempurna imannya pasti tahu bahwa hak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lebih utama baginya daripada hak bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia. Karena melalui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kita terselamatkan dari neraka dan diselamatkan dari kesesatan.
Bahkan, tidak sah imannya kecuali dengan lebih menghormati kedudukan beliau daripada ayahnya, anaknya, dan orang telah berbuat baik dan membantunya. Maka Siapa yang tidak memiliki aqidah seperti ini, maka bukan seorang mukmin.
Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menggambarkan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan menempatkan posisi cintanya kepada beliau di bawah kecintaannya terhadap dirinya sendiri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menafikan kesempurnaan imannya hingga dia menjadikan cintanya kepada beliau di atas segala-galanya.
Maka wajib mendahulukan dan mengutamakan kecintaan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atas kecintaan kepada diri sendiri, anak, kerabat, keluarga, harta, dan tempat tinggal serta segala sesuatu yang sangat dicintai manusia.
Memang setiap orang berhak untuk mengklaim dirinya sebagai pencinta Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun klaim tersebut tidak akan bermanfaat jika tidak dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti sunnahnya), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Karena berittiba' kepada beliau merupakan tuntutan dari keyakinan bahwa beliau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau dijadikan sebagai suri teladan yang harus ditiru, dicontoh, dan diikuti dalam perjalann untuk ke surga.
Allah Ta'ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الآخِر
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. al-Ahzab: 21)
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan agar mengambil setiap yang beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam berikan dari urusan dien ini dan meningalkan apa yang beliau larang.
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7)
Hal tersebut karena beliau tidak berbicara tanpa bimbingan wahyu dan menuruti hawan nafsu, "Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," QS. Al-Najm: 3-4)
Sehingga seorang pecinta Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam akan membenarkan setiap yang beliau beritakan, mentaati apa yang beliau perintahkan, meninggalkan apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkannya.
Allah Ta'ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran: 31)
Jujurnya orang yang beriman kepada Allah, mengharapkan kecintaan dan ridha-Nya serta dimasukkan ke surga-Nya adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam semua keadaannya, dalam semua perkataan dan perbuatannya, pada persoalan pokok agama dan cabang-cabangnya, dalam batin dan dzahirnya. Maka siapa yang mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam itu menunjukkan benarnya pengakuan cinta kepada Allah Ta'ala.
Al Qadli 'Iyadh rahimahullah, berkata: "Di antara bentuk cinta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah dengan menolong sunnahnya, membela syariahnya, berangan-angan hidup bersamanya, . . . "
Ibnu Rajab, dalam Fathul Bari Syarh Shahih al Bukhari, menyebutkan bahwa kecintaan bisa sempurna dengan ketaatan, sebagai firman Allah Ta'ala:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku." (QS. Ali Imran: 31)
Karenanya klaim cinta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak dapat diterima dengan sekadar memeringati hari kelahiran beliau. Namun, perilakunya banyak menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam termasuk ushul iman (pokok keimanan) yang bergandengan dengan cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla. Allah telah menyebutkannya dalam satu ayat dengan menyertakan ancaman bagi orang yang lebih mendahulukan kecintaan kepada kerabat, harta, negara serta lainnya daripada cinta kepada keduanya.
Allah Ta'ala berfirman,
قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
"Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. Al-Taubah: 24)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa'di dalam Tafsirnya Taisir al-Karim al-Rahman fi Tafsiir Kalaam al-Mannan berkata, "Dan ayat yang mulia ini adalah dalil paling agung menunjukkan wajibnya mencintai Allah dan Rasul-Nya, mendahulukannya atas kecintaan segala sesuatu. Juga menunjukkan ancaman keras dan kebencian sangat atas orang yang lebih mencintai salah satu dari yang telah disebutkan daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya."
Kemudian Syaikh Sa'di menyebutkan tanda-tandanya, "Adalah apabila hadir padanya dua perkara yang bertentangan. Salah satunya dicintai Allah dan Rasul-Nya dan tidak disukai oleh jiwanya. Sementara yang lain disukai dan diinginkan oleh jiwanya. Tapi ia mengesampingkan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Atau ia menguranginya. Maka jika ia mengutamakan apa yang disuka oleh nafsunya atas apa yang Allah cintai, hal itu menunjukkan bahwa ia berlaku zalim dan meninggalkan apa diwajibkan atasnya."
Keimanan seorang muslim tidak akan sempurna kecuali dengan mencintai utusan Allah kepada mereka, yaitu Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Bahkan, tidak sah imannya kecuali dengan lebih menghormati kedudukan beliau daripada ayahnya, anaknya, dan orang telah berbuat baik dan membantunya. Siapa yang tidak memiliki aqidah seperti ini, maka bukan seorang mukmin.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, orangtuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menurut Ibnu Baththal, makna hadits ini adalah orang yang sempurna imannya pasti tahu bahwa hak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lebih utama baginya daripada hak bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia. Karena melalui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kita terselamatkan dari neraka dan diselamatkan dari kesesatan.
Bahkan, tidak sah imannya kecuali dengan lebih menghormati kedudukan beliau daripada ayahnya, anaknya, dan orang telah berbuat baik dan membantunya. Maka Siapa yang tidak memiliki aqidah seperti ini, maka bukan seorang mukmin.
Ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menggambarkan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan menempatkan posisi cintanya kepada beliau di bawah kecintaannya terhadap dirinya sendiri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menafikan kesempurnaan imannya hingga dia menjadikan cintanya kepada beliau di atas segala-galanya.
Maka wajib mendahulukan dan mengutamakan kecintaan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atas kecintaan kepada diri sendiri, anak, kerabat, keluarga, harta, dan tempat tinggal serta segala sesuatu yang sangat dicintai manusia.
Memang setiap orang berhak untuk mengklaim dirinya sebagai pencinta Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun klaim tersebut tidak akan bermanfaat jika tidak dibuktikan dengan ittiba’ (mengikuti sunnahnya), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Karena berittiba' kepada beliau merupakan tuntutan dari keyakinan bahwa beliau adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau dijadikan sebagai suri teladan yang harus ditiru, dicontoh, dan diikuti dalam perjalann untuk ke surga.
Allah Ta'ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الآخِر
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. al-Ahzab: 21)
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan agar mengambil setiap yang beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam berikan dari urusan dien ini dan meningalkan apa yang beliau larang.
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7)
Hal tersebut karena beliau tidak berbicara tanpa bimbingan wahyu dan menuruti hawan nafsu, "Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)," QS. Al-Najm: 3-4)
Sehingga seorang pecinta Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam akan membenarkan setiap yang beliau beritakan, mentaati apa yang beliau perintahkan, meninggalkan apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkannya.
Allah Ta'ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran: 31)
Jujurnya orang yang beriman kepada Allah, mengharapkan kecintaan dan ridha-Nya serta dimasukkan ke surga-Nya adalah dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam semua keadaannya, dalam semua perkataan dan perbuatannya, pada persoalan pokok agama dan cabang-cabangnya, dalam batin dan dzahirnya. Maka siapa yang mengikuti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam itu menunjukkan benarnya pengakuan cinta kepada Allah Ta'ala.
Al Qadli 'Iyadh rahimahullah, berkata: "Di antara bentuk cinta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah dengan menolong sunnahnya, membela syariahnya, berangan-angan hidup bersamanya, . . . "
Ibnu Rajab, dalam Fathul Bari Syarh Shahih al Bukhari, menyebutkan bahwa kecintaan bisa sempurna dengan ketaatan, sebagai firman Allah Ta'ala:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku." (QS. Ali Imran: 31)
Karenanya klaim cinta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak dapat diterima dengan sekadar memeringati hari kelahiran beliau. Namun, perilakunya banyak menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]
Jawaban untuk ''4 Alasan Pembolehan Peringatan Maulid Nabi''
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 03.13
with No comments
Oleh: Abu Misykah Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Ditilik dari sisi histori, perayaan peringatan maulid (hari kelahiran) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam merupakan produk peradaban dan budaya Syi'ah. Adalah Bani Ubaid al-Qaddaah atau yang lebih dikenal dengan al-Fathimiyyun atau Bani Fathimiyyah sebagai pelopor pertama perayaan maulid. Yakni pada pertengahan abad ke empat Hijriyah, setelah berhasil memindahkan dinasti Fathimiyah dari Maroko ke Mesir pada tahun 362 H. Tujuannya, untuk menarik simpati masyarakat yang mayoritasnya berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terpuruk supaya mendukung kekuasaannya dan masuk ke dalam mazhab bathiniyahnya yang sangat menyimpang dari akidah, bahkan bertentangan dengan Islam.
Pakar sejarah yang bernama Al Maqrizy menjelaskan bahwa begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun. Dan beliau menyebutkan kurang lebih 25 perayaan yang rutin dilakukan setiap tahun dalam masa kekuasaannya, termasuk di antaranya adalah peringatan maulid Nabi. Tidak hanya perayaan-perayaan Islam tapi lebih parah lagi, mereka juga mengadakan peringatan hari raya orang-orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (tahun baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Khamisul ‘Adas (perayaan tiga hari sebelum Paskah).
Dan fakta sejarah tak terbantahkan, peringatan maulid tidak ditemukan pada masa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan masa tiga generasi pertama Islam yang disebut sebagai generasi terbaik umat ini. Sehingga menyebabkan banyak di antara ulama yang mengingkarinya dan memasukkannya ke dalam bid'ah haram.
Tak dipungkiri, di antara ulama ada yang menganggapnya sebagai bid'ah hasanah (inovasi yang baik), selama tidak dibarengi dengan kemungkaran. Pendapat ini diwakili antara lain oleh Ibnu Hajar al Atsqalani dan as-Suyuti. Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah (bid’ah terpuji). Tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tetapi keberadaannya membawa maslahat walaupun juga tidak lepas dari berbagai mudharat.
Keabsahan peringatan maulid Nabi bagi mereka disandarkan pada dalil umum yang tidak berhubungan langsung dengan titik permasalahan, sedangkan para ulama yang menentangnya membangun argumentasinya melalui pendekatan normatif tekstual yang tidak ditemukan baik secara tersurat maupun secara tersirat dalam Al-Quran dan al-Sunnah, dan diperkuat dengan kaedah umum dalam ibadah yang menuntut adanya dalil spesifik yang menunjang disyariatkannya suatu ibadah.
. . . fakta sejarah tak terbantahkan, peringatan maulid tidak ditemukan pada masa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan masa tiga generasi pertama Islam yang disebut sebagai generasi terbaik umat ini. . .
Hujjah Pendukung Peringatan Maulid
Berikut ini beberapa dalil yang dijadikan dasar legitimasi pembolehan perayaan peringatan maulid oleh pihak yang mendukungnya, juga jawaban atasnya:
Pertama: Sikap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura. Puasa tersebut adalah ungkapan syukur kepada Allah 'Azza wa Jalla atas keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun menyerukan untuk berpuasa pada hari tersebut. Sedangkan peringatan maulid Nabi, menurut Ibn Hajar dan as-Suyuti merupakan ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam ke muka bumi.
Hujjah ini ditolak oleh ulama lainnya. Mereka menganggapnya sebagai alasan yang dipaksakan, mengingat dasar suatu ibadah adalah adanya dalil yang memerintahkannya dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bukan pada logika, analogi dan istihsan.
Puasa 'Asyura termasuk sunnah yang telah dipraktikkan dan diserukan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sedangkan peringatan maulid tidak pernah dilakukan apalagi diserukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sebaliknya, beliau telah mewanti-wanti ummatnya dari membuat-buat bid'ah, seperti dalam sabdanya, "Jauhilah amalan yang tidak aku contohkan (bid'ah), karena setiap bid'ah sesat." (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Benar bahwa kita dituntut untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan nikmat terbesar yang tercurah pada umat ini adalah diutusnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai seorang rasul, bukan saat dilahirkannya. Karenanya, Al Qur'an menyebut pengutusan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai nikmat,
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri." (QS. Ali Imran: 164).
Ayat ini sama sekali tidak menyinggung kelahiran beliau dan menyebutnya sebagai nikmat. Seandainya peringatan tersebut dibolehkan, seharusnya yang diperingati adalah hari ketika beliau dibangkitkan menjadi nabi, bukan hari kelahirannya. Lagi pula, status Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mensyariatkan puasa Asyura' berbeda dengan status umatnya. Beliau adalah musyarri' (pembuat syariat), adapun umatnya hanya muttabi' (pengikut), sehingga tak dapat disamakan dan dianalogikan dengan beliau.
Dan sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk syukur kepada Allah, tentu tiga generasi terbaik, serta para imam mazhab yang empat tidak ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, sebab mereka adalah orang-orang yang pandai bersyukur, sangat cinta pada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan sangat antusias mengerjakan berbagai kebaikan.
. . sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk syukur kepada Allah, tentu tiga generasi terbaik, serta para imam mazhab yang empat tidak ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, . .
Hal yang juga mengundang tanya, mengapa ungkapan rasa syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam hanya sekali dalam setahun, 12 Rabi’ul Awwal saja? Bukankah bersyukur kepada Allah, mengagungkan dan mencintai Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dituntut setiap saat dengan menaati dan selalu ittiba’ pada sunnahnya?
Kedua: Nabi memeringati hari kelahirannya dengan berpuasa.
Sebagian beralasan dengan puasa seninnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang merupakan hari kelahirannya. Ketika beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam ditanya mengenai puasa Senin, beliau pun menjawab, “Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bolehnya memeringati hari kelahirannya.
Alasan ini juga tidak dapat diterima, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah puasa pada tanggal yang diklaim sebagai kelahirannya, 12 Rabi'ul Awwal. Yang beliau lakukan adalah puasa pada hari Senin. Seharusnya kalau ingin mengenang hari kelahiran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan dalil di atas, maka perayaan maulid diadakan tiap pekan, bukan sekali setahun.
Selain itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga tidak berpuasa hanya pada hari Senin setiap pekan, tapi juga hari Kamis. Alasan beliau, "Keseluruhan amalan diperhadapkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis sehingga aku senang amalanku diperhadapkan kepada Allah sedang aku dalam keadaan berpuasa." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).
Sehingga berdalih dengan puasa Senin tanpa hari Kamis termasuk pemaksaan dan dibuat-buat. Dan kalau alasan tersebut dapat diterima, mestinya peringatannya dilakukan dalam bentuk puasa, bukan berfoya-foya dan makan-makan.
Ketiga: Peringatan maulid Nabi dianggap sebagai bid’ah hasanah (bid'ah yang baik). Anggapan ini lahir dari klasifikasi sebagian ulama terhadap bid'ah menjadi bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah sayyi'ah (jelek) atau dhalalah (sesat).
Alasan ini dibantah oleh sebagian ulama bahwa peringatan maulid Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak dapat diterima sebagai bid'ah hasanah, karena dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan diyakini oleh sahabat adalah setiap bid’ah sesat.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).
Ibnu Mas’ud Radliyallah 'Anhu berkata, “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Al-Thabrani dan al-Haitsami).
Abdullah bin ‘Umar radliyallah 'anhu menyatakan, “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Al-Ibanah al Kubra libni Baththah, 1/219).
Keempat: Peringatan Maulid merupakan salah satu sarana untuk lebih mengenal sosok Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang pentingnya mengenal sosok Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Hanya saja, sebagian di antara mereka tidak menerima suatu bid'ah dipoles menjadi sarana kebaikan, karena tujuan yang baik tidak dapat dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara. Lagi pula, mengenal sosok beliau tidaklah pantas dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bid’ah. Lebih dari itu, upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa 'alaihis salam melalui natalan. Padahal Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ, فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka." (HR. Ahmad dan Abu Dawud serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban).
. . upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa 'alaihis salam melalui natalan.
Mengenal sosok Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan membaca dan mengkaji sirah, biografi dan sunnah beliau seharusnya dilakukan sepanjang waktu, sebagaimana para sahabat mengajarkannya kepada anak-anak mereka setiap waktu.
Seharusnya cinta Nabi dibuktikan dengan meneladani dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, bukan dengan menyelisihi perintah atau melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Wallahu Ta’laa A’lam. (PurWD/voa-islam)
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Ditilik dari sisi histori, perayaan peringatan maulid (hari kelahiran) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam merupakan produk peradaban dan budaya Syi'ah. Adalah Bani Ubaid al-Qaddaah atau yang lebih dikenal dengan al-Fathimiyyun atau Bani Fathimiyyah sebagai pelopor pertama perayaan maulid. Yakni pada pertengahan abad ke empat Hijriyah, setelah berhasil memindahkan dinasti Fathimiyah dari Maroko ke Mesir pada tahun 362 H. Tujuannya, untuk menarik simpati masyarakat yang mayoritasnya berada dalam kondisi ekonomi yang sangat terpuruk supaya mendukung kekuasaannya dan masuk ke dalam mazhab bathiniyahnya yang sangat menyimpang dari akidah, bahkan bertentangan dengan Islam.
Pakar sejarah yang bernama Al Maqrizy menjelaskan bahwa begitu banyak perayaan yang dilakukan oleh Fatimiyyun dalam setahun. Dan beliau menyebutkan kurang lebih 25 perayaan yang rutin dilakukan setiap tahun dalam masa kekuasaannya, termasuk di antaranya adalah peringatan maulid Nabi. Tidak hanya perayaan-perayaan Islam tapi lebih parah lagi, mereka juga mengadakan peringatan hari raya orang-orang Majusi dan Nashrani yaitu hari Nauruz (tahun baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), dan hari Khamisul ‘Adas (perayaan tiga hari sebelum Paskah).
Dan fakta sejarah tak terbantahkan, peringatan maulid tidak ditemukan pada masa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan masa tiga generasi pertama Islam yang disebut sebagai generasi terbaik umat ini. Sehingga menyebabkan banyak di antara ulama yang mengingkarinya dan memasukkannya ke dalam bid'ah haram.
Tak dipungkiri, di antara ulama ada yang menganggapnya sebagai bid'ah hasanah (inovasi yang baik), selama tidak dibarengi dengan kemungkaran. Pendapat ini diwakili antara lain oleh Ibnu Hajar al Atsqalani dan as-Suyuti. Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid Nabi adalah bid’ah mahmudah (bid’ah terpuji). Tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tetapi keberadaannya membawa maslahat walaupun juga tidak lepas dari berbagai mudharat.
Keabsahan peringatan maulid Nabi bagi mereka disandarkan pada dalil umum yang tidak berhubungan langsung dengan titik permasalahan, sedangkan para ulama yang menentangnya membangun argumentasinya melalui pendekatan normatif tekstual yang tidak ditemukan baik secara tersurat maupun secara tersirat dalam Al-Quran dan al-Sunnah, dan diperkuat dengan kaedah umum dalam ibadah yang menuntut adanya dalil spesifik yang menunjang disyariatkannya suatu ibadah.
. . . fakta sejarah tak terbantahkan, peringatan maulid tidak ditemukan pada masa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan masa tiga generasi pertama Islam yang disebut sebagai generasi terbaik umat ini. . .
Hujjah Pendukung Peringatan Maulid
Berikut ini beberapa dalil yang dijadikan dasar legitimasi pembolehan perayaan peringatan maulid oleh pihak yang mendukungnya, juga jawaban atasnya:
Pertama: Sikap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura. Puasa tersebut adalah ungkapan syukur kepada Allah 'Azza wa Jalla atas keselamatan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun menyerukan untuk berpuasa pada hari tersebut. Sedangkan peringatan maulid Nabi, menurut Ibn Hajar dan as-Suyuti merupakan ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam ke muka bumi.
Hujjah ini ditolak oleh ulama lainnya. Mereka menganggapnya sebagai alasan yang dipaksakan, mengingat dasar suatu ibadah adalah adanya dalil yang memerintahkannya dan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bukan pada logika, analogi dan istihsan.
Puasa 'Asyura termasuk sunnah yang telah dipraktikkan dan diserukan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sedangkan peringatan maulid tidak pernah dilakukan apalagi diserukan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sebaliknya, beliau telah mewanti-wanti ummatnya dari membuat-buat bid'ah, seperti dalam sabdanya, "Jauhilah amalan yang tidak aku contohkan (bid'ah), karena setiap bid'ah sesat." (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Benar bahwa kita dituntut untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan nikmat terbesar yang tercurah pada umat ini adalah diutusnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai seorang rasul, bukan saat dilahirkannya. Karenanya, Al Qur'an menyebut pengutusan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai nikmat,
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri." (QS. Ali Imran: 164).
Ayat ini sama sekali tidak menyinggung kelahiran beliau dan menyebutnya sebagai nikmat. Seandainya peringatan tersebut dibolehkan, seharusnya yang diperingati adalah hari ketika beliau dibangkitkan menjadi nabi, bukan hari kelahirannya. Lagi pula, status Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mensyariatkan puasa Asyura' berbeda dengan status umatnya. Beliau adalah musyarri' (pembuat syariat), adapun umatnya hanya muttabi' (pengikut), sehingga tak dapat disamakan dan dianalogikan dengan beliau.
Dan sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk syukur kepada Allah, tentu tiga generasi terbaik, serta para imam mazhab yang empat tidak ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, sebab mereka adalah orang-orang yang pandai bersyukur, sangat cinta pada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan sangat antusias mengerjakan berbagai kebaikan.
. . sekiranya peringatan maulid merupakan bentuk syukur kepada Allah, tentu tiga generasi terbaik, serta para imam mazhab yang empat tidak ketinggalan untuk melakukan peringatan tersebut, . .
Hal yang juga mengundang tanya, mengapa ungkapan rasa syukur, penghormatan dan pengagungan pada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam hanya sekali dalam setahun, 12 Rabi’ul Awwal saja? Bukankah bersyukur kepada Allah, mengagungkan dan mencintai Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dituntut setiap saat dengan menaati dan selalu ittiba’ pada sunnahnya?
Kedua: Nabi memeringati hari kelahirannya dengan berpuasa.
Sebagian beralasan dengan puasa seninnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang merupakan hari kelahirannya. Ketika beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam ditanya mengenai puasa Senin, beliau pun menjawab, “Hari tersebut adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai Rasul atau pertama kali aku menerima wahyu.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bolehnya memeringati hari kelahirannya.
Alasan ini juga tidak dapat diterima, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak pernah puasa pada tanggal yang diklaim sebagai kelahirannya, 12 Rabi'ul Awwal. Yang beliau lakukan adalah puasa pada hari Senin. Seharusnya kalau ingin mengenang hari kelahiran Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan dalil di atas, maka perayaan maulid diadakan tiap pekan, bukan sekali setahun.
Selain itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga tidak berpuasa hanya pada hari Senin setiap pekan, tapi juga hari Kamis. Alasan beliau, "Keseluruhan amalan diperhadapkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis sehingga aku senang amalanku diperhadapkan kepada Allah sedang aku dalam keadaan berpuasa." (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).
Sehingga berdalih dengan puasa Senin tanpa hari Kamis termasuk pemaksaan dan dibuat-buat. Dan kalau alasan tersebut dapat diterima, mestinya peringatannya dilakukan dalam bentuk puasa, bukan berfoya-foya dan makan-makan.
Ketiga: Peringatan maulid Nabi dianggap sebagai bid’ah hasanah (bid'ah yang baik). Anggapan ini lahir dari klasifikasi sebagian ulama terhadap bid'ah menjadi bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah sayyi'ah (jelek) atau dhalalah (sesat).
Alasan ini dibantah oleh sebagian ulama bahwa peringatan maulid Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak dapat diterima sebagai bid'ah hasanah, karena dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak dikenal sama sekali adanya bid’ah hasanah. Bahkan yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan diyakini oleh sahabat adalah setiap bid’ah sesat.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).
Ibnu Mas’ud Radliyallah 'Anhu berkata, “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Al-Thabrani dan al-Haitsami).
Abdullah bin ‘Umar radliyallah 'anhu menyatakan, “Setiap bid’ah adalah sesat, walaupun manusia menganggapnya baik.” (Al-Ibanah al Kubra libni Baththah, 1/219).
Keempat: Peringatan Maulid merupakan salah satu sarana untuk lebih mengenal sosok Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang pentingnya mengenal sosok Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Hanya saja, sebagian di antara mereka tidak menerima suatu bid'ah dipoles menjadi sarana kebaikan, karena tujuan yang baik tidak dapat dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara. Lagi pula, mengenal sosok beliau tidaklah pantas dibatasi oleh bulan atau tanggal tertentu. Jika ia dibatasi oleh waktu tertentu, apalagi dengan cara tertentu pula, maka sudah masuk ke dalam lingkup bid’ah. Lebih dari itu, upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa 'alaihis salam melalui natalan. Padahal Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ, فَهُوَ مِنْهُمْ
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka." (HR. Ahmad dan Abu Dawud serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban).
. . upaya mengenal sosok beliau lewat peringatan maulid merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang Nashrani yang merayakan kelahiran Nabi Isa 'alaihis salam melalui natalan.
Mengenal sosok Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dengan membaca dan mengkaji sirah, biografi dan sunnah beliau seharusnya dilakukan sepanjang waktu, sebagaimana para sahabat mengajarkannya kepada anak-anak mereka setiap waktu.
Seharusnya cinta Nabi dibuktikan dengan meneladani dan mengikuti sunnah-sunnah beliau, bukan dengan menyelisihi perintah atau melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Wallahu Ta’laa A’lam. (PurWD/voa-islam)
Pemuda Yang Mendapat Perlindungan Allah Di Hari Kiamat
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 00.20
with No comments
Dari Abi Hurairah. r. a bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasalam bersabda: Ada tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindunganNya, yaitu, Imam (pemimpin) yang adil, Pemuda yang taat kepada Allah, Lelaki yang terpaut hatinya dengan masjid, Dua orang yang saling kasih-mengasihi karena Allah, Lelaki yang diajak oleh wanita yang mempunyai kedudukan dan cantik, lalu ia berkata: “Aku takut kepada Allah”, Orang yang bersedekah secara sembunyi sehingga tidak mengetahui tangan kirinya apa yang diberi oleh tangan kanannya, Orang yang bermunajat kepada Allah sambil menggelinangkan airmatanya. [Hadis Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim]
Dari hadist diatas disebutkan bahwa, orang yang akan langsung mendapat perlindungan langsung dari Allah yaitu " pemuda yang taat kepada Allah". Kenapa anak muda? dan kenapa bukan orang tua? Apakah kalo orang tua yang rajin ibadah, Allah nggak seneng? Iya pasti seneng . Tapi Allah akan lebih seneng kalau ada anak muda yang rajin ibadah. Ini karena kalau ada orang tua yang rajin ibadah mah itu udah pantes kali'. Emang udah waktunya. Bayangin ajah, ada orang yang sholatnya rajin, ke masjid tiap hari, sholat selalu tepat waktu, malam harinya selalu sholat tahajud, dzikirnya juga mantab, pas ditanya, umurnya berapa? 70 tahun. Nggak istimewa, itu memang sudah seharusnya. Lagian kalo udah 70 tahun tapi masih bandel, masih dugem, ngedrugs, ato gaul yah... itu mah namanya nggak sadar diri dunk, kapan mau tobat coba?.
Nah akan sangat beda saat hal itu kejadian sama anak muda. Soalnya anak muda kan darahnya masih panas, semangatnya masih membara, dia masih mencari proses jati dirinya, dan logikanya pun masih sangat labil. Tapi disisi lain, dia sanggup memblokir nafsu dan keinginan duniawinya, dan menyalurkan semangatnya yang masih sangat hidup untuk hanya berada di jalan allah. Maka Allah akan sangat mencintai pemuda seperti itu. Sehingga nanti di akherat mereka langsung mendapat perlindungan dari Allah subhanahu wataala. Pren, Semoga kita semua termasuk dalam golongan itu y. So, kenapa nggak sekarang ajah kita mulai benahin diri, mumpung masih nafas kan?Daripada Abi Hurairah. r. a bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasalam bersabda: Ada tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindunganNya, yaitu, Imam (pemimpin) yang adil, Pemuda yang taat kepada Allah, Lelaki yang terpaut hatinya dengan masjid, Dua orang yang saling kasih-mengasihi karena Allah, Lelaki yang diajak oleh wanita yang mempunyai kedudukan dan cantik, lalu ia berkata: “Aku takut kepada Allah”, Orang yang bersedekah secara sembunyi sehingga tidak mengetahui tangan kirinya apa yang diberi oleh tangan kanannya, Orang yang bermunajat kepada Allah sambil menggelinangkan airmatanya. [Hadis Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim]
Dari hadist diatas disebutkan bahwa, orang yang akan langsung mendapat perlindungan langsung dari Allah, salah satunya yaitu " pemuda yang taat kepada Allah". Kenapa anak muda? dan kenapa bukan orang tua? Apakah kalo orang tua yang rajin ibadah, Allah nggak seneng? Iya pasti seneng . Tapi Allah akan lebih seneng kalau ada anak muda yang rajin ibadah. Ini karena kalau ada orang tua yang rajin ibadah mah itu udah pantes kali'. Emang udah waktunya. Bayangin ajah, ada orang yang sholatnya rajin, ke masjid tiap hari, sholat selalu tepat waktu, malam harinya selalu sholat tahajud, dzikirnya juga mantab, pas ditanya, umurnya berapa? 70 tahun.. hmm...nggak istimewa, itu memang sudah seharusnya. Lagian kalo udah 70 tahun tapi masih bandel, masih dugem, ngedrugs, ato gaul yah... itu mah namanya nggak sadar diri dunk, kapan mau tobat coba?.
Nah akan sangat beda saat hal itu kejadian sama anak muda. Soalnya anak muda kan darahnya masih panas, semangatnya masih membara, dia masih mencari proses jati dirinya, dan logikanya pun masih sangat labil. Tapi disisi lain, dia sanggup memblokir nafsu dan keinginan duniawinya, dan menyalurkan semangatnya yang masih sangat hidup untuk hanya berada di jalan allah. Maka Allah akan sangat mencintai pemuda seperti itu. Sehingga nanti di akherat mereka langsung mendapat perlindungan dari Allah subhanahu wataala. Pren, Semoga kita semua termasuk dalam golongan itu y. So, kenapa nggak sekarang ajah kita mulai benahin diri, mumpung masih nafas kan?
Dari hadist diatas disebutkan bahwa, orang yang akan langsung mendapat perlindungan langsung dari Allah yaitu " pemuda yang taat kepada Allah". Kenapa anak muda? dan kenapa bukan orang tua? Apakah kalo orang tua yang rajin ibadah, Allah nggak seneng? Iya pasti seneng . Tapi Allah akan lebih seneng kalau ada anak muda yang rajin ibadah. Ini karena kalau ada orang tua yang rajin ibadah mah itu udah pantes kali'. Emang udah waktunya. Bayangin ajah, ada orang yang sholatnya rajin, ke masjid tiap hari, sholat selalu tepat waktu, malam harinya selalu sholat tahajud, dzikirnya juga mantab, pas ditanya, umurnya berapa? 70 tahun. Nggak istimewa, itu memang sudah seharusnya. Lagian kalo udah 70 tahun tapi masih bandel, masih dugem, ngedrugs, ato gaul yah... itu mah namanya nggak sadar diri dunk, kapan mau tobat coba?.
Nah akan sangat beda saat hal itu kejadian sama anak muda. Soalnya anak muda kan darahnya masih panas, semangatnya masih membara, dia masih mencari proses jati dirinya, dan logikanya pun masih sangat labil. Tapi disisi lain, dia sanggup memblokir nafsu dan keinginan duniawinya, dan menyalurkan semangatnya yang masih sangat hidup untuk hanya berada di jalan allah. Maka Allah akan sangat mencintai pemuda seperti itu. Sehingga nanti di akherat mereka langsung mendapat perlindungan dari Allah subhanahu wataala. Pren, Semoga kita semua termasuk dalam golongan itu y. So, kenapa nggak sekarang ajah kita mulai benahin diri, mumpung masih nafas kan?Daripada Abi Hurairah. r. a bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasalam bersabda: Ada tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindunganNya, yaitu, Imam (pemimpin) yang adil, Pemuda yang taat kepada Allah, Lelaki yang terpaut hatinya dengan masjid, Dua orang yang saling kasih-mengasihi karena Allah, Lelaki yang diajak oleh wanita yang mempunyai kedudukan dan cantik, lalu ia berkata: “Aku takut kepada Allah”, Orang yang bersedekah secara sembunyi sehingga tidak mengetahui tangan kirinya apa yang diberi oleh tangan kanannya, Orang yang bermunajat kepada Allah sambil menggelinangkan airmatanya. [Hadis Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim]
Dari hadist diatas disebutkan bahwa, orang yang akan langsung mendapat perlindungan langsung dari Allah, salah satunya yaitu " pemuda yang taat kepada Allah". Kenapa anak muda? dan kenapa bukan orang tua? Apakah kalo orang tua yang rajin ibadah, Allah nggak seneng? Iya pasti seneng . Tapi Allah akan lebih seneng kalau ada anak muda yang rajin ibadah. Ini karena kalau ada orang tua yang rajin ibadah mah itu udah pantes kali'. Emang udah waktunya. Bayangin ajah, ada orang yang sholatnya rajin, ke masjid tiap hari, sholat selalu tepat waktu, malam harinya selalu sholat tahajud, dzikirnya juga mantab, pas ditanya, umurnya berapa? 70 tahun.. hmm...nggak istimewa, itu memang sudah seharusnya. Lagian kalo udah 70 tahun tapi masih bandel, masih dugem, ngedrugs, ato gaul yah... itu mah namanya nggak sadar diri dunk, kapan mau tobat coba?.
Nah akan sangat beda saat hal itu kejadian sama anak muda. Soalnya anak muda kan darahnya masih panas, semangatnya masih membara, dia masih mencari proses jati dirinya, dan logikanya pun masih sangat labil. Tapi disisi lain, dia sanggup memblokir nafsu dan keinginan duniawinya, dan menyalurkan semangatnya yang masih sangat hidup untuk hanya berada di jalan allah. Maka Allah akan sangat mencintai pemuda seperti itu. Sehingga nanti di akherat mereka langsung mendapat perlindungan dari Allah subhanahu wataala. Pren, Semoga kita semua termasuk dalam golongan itu y. So, kenapa nggak sekarang ajah kita mulai benahin diri, mumpung masih nafas kan?
Wahai Akhwat, Jangan Tertipu ''Playboy Berkedok Ikhwan''
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 23.53
with No comments
Yulianna PS
Penulis kumcer Hidayah Pelipur Cinta
“Subhanallah ukhti, Akhi Fulan bin Fulan ini benar-benar shalih, cara bicaranya, cara merespon lawan bicara, cara memberi komentar di pesbuk, semua kata-katanya indah dan menyentuh, bahkan sangat gentlemen banget.”
Demikian kira-kira curhat seorang akhwat terdengar kepada penulis. Mungkin banyak dari kita mendapat curhat seperti itu dari rekan dekat dan sekitar. Curhat kekaguman seorang akhwat terhadap ikhwan yang dikenal via fesbuk atau jejaring sosial lain. Tidak mengherankan jika akhwat mengagumi ikhwan berlebihan, karena mungkin sang akhwat sedang terpedaya oleh kalimat menghanyutkan dari sang ikhwan.
Tetapi ada hal lain yang mesti diperhatikan oleh seorang muslimah, bahwa lembut dan tegas harus diletakkan pada tempat yang proporsional.
Jika kita memperhatikan pergaulan dunia maya, banyak yang tertipu dan mudah percaya dengan identitas yang tersaji. Padahal dunia maya itu tidak sepenuhnya dapat dijadikan rujukan informasi tentang identitas seseorang. Contoh yang paling menonjol, banyak peristiwa akhwat terlukai oleh manis tipuan ikhwan dunia maya. Penulis ambil contoh dari jejaring sosial fesbuk. Di sini rentan terjadi penipuan, baik dari orang biasa maupun orang luar biasa atau orang yang keluar dari kebiasaan.
Ada akhwat yang memang senang dan merasa tersanjung dengan didekati ikhwan yang rada-rada punya jiwa gombalis suka bergaya puitis. Inbox dan komentar dinilainya sebagai bentuk perhatian khusus bagi akhwat, padahal tidak jarang bukan cuma dua atau tiga akhwat yang dijadikan target melancarkan aksi gombalisasi.
Tetapi ada juga akhwat yang justru merasa risih dan gerah dengan banyak diperhatikan ikhwan, karena akhwat akan dapat menyimpulkan bahwa ikhwan model gini tidak layak disebut sebagai ikhwan, tapi lebih pantas dijuluki “Playboy Berkedok Ikhwan.”
Ada beberapa ciri-ciri playboy bergaya ikhwan di dunia maya yang bernama facebook, antara lain:
1. Rajin memberikan perhatian kepada akhwat melalui komentar, seakan ia adalah ikhwan shalih yang hafal ratusan dalil Al Qur’an dan hadits, padahal bermodal copy-paste dari internet.
2. Giat kirim inbox pada akhwat. Penting engga penting, ada aja alasan buat membuka celah agar tercipta dialog, terkadang dipaksa-paksakan, sampai-sampai kucing tetangga yang lagi sakit pun jadi bahan pembicaraan.
3. Tebar komentar berisi pujian, misalnya: ‘Subhanallah, ukhty sangat anggun dengan hijab lebar itu’, atau ‘Wah….mantap benar nih ukhti, ga rugi ana jadi teman anti’, dan bla bla bla….
4. Tebar perhatian berisi nasihat, misalnya: “Ukhti sholatnya yang khusyu’ ya’, ato ‘ukhti semangat, mujahidah gitu lho, hehhee’. Norak banget khan?”
5. Yang paling parah ini nih, tebar janji ta’aruf dan nikah, padahal yang dijanjikan bukan cuma dua atau tiga akhwat. Giliran ketauan bohongnya, jadi berabe.
De el el, masih banyak lagi, yang pasti play boy berbaju ikhwan ini sistematis cara melancarkan serangan. Jika yang di incer akhwat yang suka ngebahas jihad, maka bentuk tebar pesonanya juga berkecimpung tentang jihad, meskipun dengan modal mbah Google. Jika yang diincar akhwat aktivis, maka bentuk perhatiannya juga ga jauh-jauh tentang problema keumatan, meski kalimat perhatiannya hasil copas beranda tetangga sebelah.
Terakhir, penulis hanya ingin mengingatkan saja, hati-hati dengan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay yang suka tebar perhatian. Para FBI alias Female Bidikan Ikhwan juga harus pintar-pintar menggunakan jejaring sosial agar mendapatkan manfaat, bukan mudharat. Kalau mau serius sama ikhwan, lebih baik ajak kopdar dan nanya orang-orang dekat. Dan kepada para play boy, stop it deh aksinya, kasian para akhwat yang udah terpedaya oleh aksi kalian. Be Good man guys.. ^_^
Penulis kumcer Hidayah Pelipur Cinta
“Subhanallah ukhti, Akhi Fulan bin Fulan ini benar-benar shalih, cara bicaranya, cara merespon lawan bicara, cara memberi komentar di pesbuk, semua kata-katanya indah dan menyentuh, bahkan sangat gentlemen banget.”
Demikian kira-kira curhat seorang akhwat terdengar kepada penulis. Mungkin banyak dari kita mendapat curhat seperti itu dari rekan dekat dan sekitar. Curhat kekaguman seorang akhwat terhadap ikhwan yang dikenal via fesbuk atau jejaring sosial lain. Tidak mengherankan jika akhwat mengagumi ikhwan berlebihan, karena mungkin sang akhwat sedang terpedaya oleh kalimat menghanyutkan dari sang ikhwan.
Tetapi ada hal lain yang mesti diperhatikan oleh seorang muslimah, bahwa lembut dan tegas harus diletakkan pada tempat yang proporsional.
Jika kita memperhatikan pergaulan dunia maya, banyak yang tertipu dan mudah percaya dengan identitas yang tersaji. Padahal dunia maya itu tidak sepenuhnya dapat dijadikan rujukan informasi tentang identitas seseorang. Contoh yang paling menonjol, banyak peristiwa akhwat terlukai oleh manis tipuan ikhwan dunia maya. Penulis ambil contoh dari jejaring sosial fesbuk. Di sini rentan terjadi penipuan, baik dari orang biasa maupun orang luar biasa atau orang yang keluar dari kebiasaan.
Ada akhwat yang memang senang dan merasa tersanjung dengan didekati ikhwan yang rada-rada punya jiwa gombalis suka bergaya puitis. Inbox dan komentar dinilainya sebagai bentuk perhatian khusus bagi akhwat, padahal tidak jarang bukan cuma dua atau tiga akhwat yang dijadikan target melancarkan aksi gombalisasi.
Tetapi ada juga akhwat yang justru merasa risih dan gerah dengan banyak diperhatikan ikhwan, karena akhwat akan dapat menyimpulkan bahwa ikhwan model gini tidak layak disebut sebagai ikhwan, tapi lebih pantas dijuluki “Playboy Berkedok Ikhwan.”
Ada beberapa ciri-ciri playboy bergaya ikhwan di dunia maya yang bernama facebook, antara lain:
1. Rajin memberikan perhatian kepada akhwat melalui komentar, seakan ia adalah ikhwan shalih yang hafal ratusan dalil Al Qur’an dan hadits, padahal bermodal copy-paste dari internet.
2. Giat kirim inbox pada akhwat. Penting engga penting, ada aja alasan buat membuka celah agar tercipta dialog, terkadang dipaksa-paksakan, sampai-sampai kucing tetangga yang lagi sakit pun jadi bahan pembicaraan.
3. Tebar komentar berisi pujian, misalnya: ‘Subhanallah, ukhty sangat anggun dengan hijab lebar itu’, atau ‘Wah….mantap benar nih ukhti, ga rugi ana jadi teman anti’, dan bla bla bla….
4. Tebar perhatian berisi nasihat, misalnya: “Ukhti sholatnya yang khusyu’ ya’, ato ‘ukhti semangat, mujahidah gitu lho, hehhee’. Norak banget khan?”
5. Yang paling parah ini nih, tebar janji ta’aruf dan nikah, padahal yang dijanjikan bukan cuma dua atau tiga akhwat. Giliran ketauan bohongnya, jadi berabe.
De el el, masih banyak lagi, yang pasti play boy berbaju ikhwan ini sistematis cara melancarkan serangan. Jika yang di incer akhwat yang suka ngebahas jihad, maka bentuk tebar pesonanya juga berkecimpung tentang jihad, meskipun dengan modal mbah Google. Jika yang diincar akhwat aktivis, maka bentuk perhatiannya juga ga jauh-jauh tentang problema keumatan, meski kalimat perhatiannya hasil copas beranda tetangga sebelah.
Terakhir, penulis hanya ingin mengingatkan saja, hati-hati dengan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay yang suka tebar perhatian. Para FBI alias Female Bidikan Ikhwan juga harus pintar-pintar menggunakan jejaring sosial agar mendapatkan manfaat, bukan mudharat. Kalau mau serius sama ikhwan, lebih baik ajak kopdar dan nanya orang-orang dekat. Dan kepada para play boy, stop it deh aksinya, kasian para akhwat yang udah terpedaya oleh aksi kalian. Be Good man guys.. ^_^
Generasi Muda dalam Kepungan Valentine's Day
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 23.51
with No comments
By: Athifa Rahmi
Mahasiswi Pendidikan Kimia UPI
Valentine’s day bukanlah hal yang asing lagi di telinga kita, apalagi saat ini adalah bulan Februari, bulan dimana valentine’s day dirayakan, frekuensi kita mendengar atau pun membaca kata-kata itu semakin meningkat. Valentine’s day atau biasa juga disebut V Day oleh kalangan muda saat ini, sudah menjangkiti hampir seluruh kaula muda kita. V day bagi mereka seakan-akan telah menjadi sebuah acara ceremonial yang wajib dilaksanakan tiap tahun bersama pasangan, tak penting status pasangan itu legal atau pun illegal-nya.
Bagi sebagian besar kalangan muda, tak lengkap jika pada tanggal 14 Februari tak pergi jalan dengan pasangannya. Berbagai rangkaian kegiatan menghiasi V Day, mulai dari saling bertukar kado, memberikan coklat, memberikan bungan mawar merah, sekedar jalan keluar, makan di restoran atau pun di emperan jalan. Bahkan tak jarang V Day diwarnai dengan kegiatan-kegiatan yang menjijikkan, seperti: ciuman, pelukan, atau bahkan freesex.
Awal Mula Valentine day
Valentine’s day merupakan perayaan yang dilakukan oleh umat kristiani guna memperingati kematian salah seorang pendeta mereka, St. Valentine. Di salah satu sumber menyatakan bahwa Valentine dijatuhi hukuman mati oleh raja Claudius karena telah melanggar perintah raja. Claudius telah melarang para pemuda dan prajurit di wilayahnya untuk menikah karena menurutnya ikatan pernikahan hanya akan mengendurkan semangat prajurit dalam berperang. Mereka enggan untuk berperang karena keterikatan mereka kepada keluarga mereka, akhirnya keputusan yang sama sekali tidak adil ini dilontarkan oleh Claudius. Valentine selaku pendeta yang mana tugasnya adalah menikahkan sepasang anak manusia menentang keputusan ini. Dia secara diam-diam tetap menikahkan pasangan yang mendatanginya. Lama-kelamaan, tindakan Valentine diketahui oleh Claudius, hingga akhirnya dia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Guna mengenang jasa Valentine dalam menyatukan kasih sayang antar dua insan manusia, maka ditetapkanlah tanggal 14 Februari, hari kematiannya, sebagai hari kasih sayang atau biasa juga disebut Valentine’s day. Dulunya, perayaan Valentine’s day berupa pemberian kado, coklat, ataupun saling berkirim surat sebagai pengungkapan rasa kasih sayang kepada orang-orang yang disayangi, namun pada saat ini perayaannya lebih cenderung kepada sesuatu yang berbau seks.
Pandangan Terhadap Valentine’s Day
Seperti yang dipaparkan di atas bahwa perayaan Valentine’s day bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan berasal dari budaya umat non-Islam. Maka, sudah barang tentu haram hukumnya untuk kita ikut merayakannya atau hanya sekedar memberikan selamat. Karena apabila kita memberikan ucapan selamat, itu berarti kita telah mengakui kebenaran agama mereka, sedangkan agama yang benar di sisi Allah SWT hanyalah Islam. Sebagaimana Allah berfirman:
“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya” (Q.S. Ali-Imran:19)
Adapun ikut merayakannya maka itu lebih tidak boleh lagi. Apabila kita ikut merayakannya maka kita akan termasuk ke dalam golongan mereka, sebagaimana rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka” (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)
Di redaksi lainnya, rasulullah SAW bersabda:
“Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan umatku (umat Islam).”(HR. Tirmidzi dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari datuknya).
Apabila kita sudah termasuk golongan mereka, berarti tempat kita di akhirat nanti akan sama juga dengan mereka, yaitu neraka. Lalu pertanyaannya, apakah kita mau menemani mereka di neraka kelak hanya karena kita ikut-ikutan merayakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya? Semua itu tergantung pilihan pembaca, karena hidupmu adalah pilihanmu.
Apa dampak perayaan Valentine’s day bagi generasi muda?
Perayaan Valentine’s day yang bukan berasal dari Islam tentu menimbulkan banyak mudharat kepada kaum muslimin, terutama kepada kaula muda. Apalagi Valentine’s day begitu sarat dengan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. Tak jarang para remaja putri yang merelakan keperawanannya demi sang kekasih pada saat Valentine’s day. Alasan yang sering dikemukakan tak lain adalah untuk menunjukkan kasih-sayangnya kepada sang kekasih. Sungguh, sebuah alasan yang tidak mendasar dan tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana mungkin, rasa sayang diwujudkan dengan memberikan sebuah harta yang paling berharga kepada seseorang yang bukan mahromnya. Sungguh aneh, sebuah perbuatan dosa besar di mata agama dianggap sebuah bukti kasih sayang? Yang ada, itu adalah bukti ketidakterikatannya dengan hukum syara’.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, masyarakat bukannya menentang perayaan dan kegiatan-kegiatan yang terkandung di dalamnya, tapi malah ikut memberikan support. Buktinya, pada saat Valentine’s day makin banyak pihak yang menjual barang-barang yang berbau Valentine’s day, seperti coklat dan bunga mawar. Minimarket-minimarket semakin gencar melakukan promosi coklat. Promosi ini tidak hanya sekedar promosi biasa, namun ini adalah promosi yang menjerumuskan si pembeli untuk berbuat maksiat. Bagaimana tidak, promosi coklat ini berupa pemberian kondom secara gratis apabila membeli beberapa coklat. Tentu ini akan menjerumuskan pemuda kita ke aktivitas freesex.
Apabila kaum muda telah terjerumus pada hal-hal yang semacam ini, maka tunggulah kehancuran bangsa ini. Pemuda yang menjadi generasi penerus bangsa tidak lagi tangguh, tak lagi bertanggung jawab, bukan lagi generasi yang berkualitas, melainkan mereka sudah menjadi generasi yang rusak yang sudah tidak dapat diandalkan lagi.
Solusi Islam Mengangapi Valentine’s Day
Ketika kita bebicara mengenai pandangan menurut Islam, maka kita akan berbicara tentang hukum-hukum syara’ karena hukum syara’ adalah essensi dari Islam itu sendiri.
Dalam menangani hal ini, Islam mempunyai solusi tesendiri yang dijamin akan membuahkan hasil. Generasi muda Islam dari sejak dini dididik supaya berkepribadian Islami, dimana berpola pikir dan pola sikap Islam, sehingga ketika ada suatu budaya asing yang bertentangan dengan akidah mereka, mereka mampu mengatasinya.
Namun kenyataannya, generasi muslim saat ini tidak lagi berpola pikir dan pola sikap Islam. Semua itu karena pendidikan yang dienyam oleh generasi saat ini adalah pendidian sekuler yang sama sekali tidak akan pernah membentuk sebuah kepribadian Islam pada diri mereka. Pendidikan sekuler ini hanya akan menjauhkan mereka dari Islam itu sendiri, sehingga yang terbentuk adalah generasi yang berkepribadian sekuler pula. Seseorang yang berkepribadian sekuler akan cenderung bersikap bebas karena pada dirinya tak ada lagi rasa untuk terikat dengan hukum syara’.
Pemasalahan ini bukan hanya terletak pada satu komponen pendidikan saja, melainkan permasalahan ini adalah permasalahan sistemik. Dimana, generasi muda yang rusak karena tidak berkepribadian Islam sebagai output dari sistem penddidian sekuler. Wajah sistem pendidikan tidak terlepas dari bentuk kurikulum yang yang dihasilkan oleh suatu negara. Jadi, untuk menjadikan generasi muda ini tetap baik (Islami) diperlukan sistem pendidikan yang Islami pula, sistem pendidikan yang Islami tidak akan pernah terbentuk dalam sistem pemerintahan yang sekuler, melainkan hanya akan terbentuk dalam sistem pemerintahan Islam juga. Sebuah sistem pemerintahan yang menjaga generasinya dari budaya asing yang menjerumuskan dan memastikan generasinya adalah generasi yang berkualitas, yaitu khilafah Islamiyyah
Mahasiswi Pendidikan Kimia UPI
Valentine’s day bukanlah hal yang asing lagi di telinga kita, apalagi saat ini adalah bulan Februari, bulan dimana valentine’s day dirayakan, frekuensi kita mendengar atau pun membaca kata-kata itu semakin meningkat. Valentine’s day atau biasa juga disebut V Day oleh kalangan muda saat ini, sudah menjangkiti hampir seluruh kaula muda kita. V day bagi mereka seakan-akan telah menjadi sebuah acara ceremonial yang wajib dilaksanakan tiap tahun bersama pasangan, tak penting status pasangan itu legal atau pun illegal-nya.
Bagi sebagian besar kalangan muda, tak lengkap jika pada tanggal 14 Februari tak pergi jalan dengan pasangannya. Berbagai rangkaian kegiatan menghiasi V Day, mulai dari saling bertukar kado, memberikan coklat, memberikan bungan mawar merah, sekedar jalan keluar, makan di restoran atau pun di emperan jalan. Bahkan tak jarang V Day diwarnai dengan kegiatan-kegiatan yang menjijikkan, seperti: ciuman, pelukan, atau bahkan freesex.
Awal Mula Valentine day
Valentine’s day merupakan perayaan yang dilakukan oleh umat kristiani guna memperingati kematian salah seorang pendeta mereka, St. Valentine. Di salah satu sumber menyatakan bahwa Valentine dijatuhi hukuman mati oleh raja Claudius karena telah melanggar perintah raja. Claudius telah melarang para pemuda dan prajurit di wilayahnya untuk menikah karena menurutnya ikatan pernikahan hanya akan mengendurkan semangat prajurit dalam berperang. Mereka enggan untuk berperang karena keterikatan mereka kepada keluarga mereka, akhirnya keputusan yang sama sekali tidak adil ini dilontarkan oleh Claudius. Valentine selaku pendeta yang mana tugasnya adalah menikahkan sepasang anak manusia menentang keputusan ini. Dia secara diam-diam tetap menikahkan pasangan yang mendatanginya. Lama-kelamaan, tindakan Valentine diketahui oleh Claudius, hingga akhirnya dia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Guna mengenang jasa Valentine dalam menyatukan kasih sayang antar dua insan manusia, maka ditetapkanlah tanggal 14 Februari, hari kematiannya, sebagai hari kasih sayang atau biasa juga disebut Valentine’s day. Dulunya, perayaan Valentine’s day berupa pemberian kado, coklat, ataupun saling berkirim surat sebagai pengungkapan rasa kasih sayang kepada orang-orang yang disayangi, namun pada saat ini perayaannya lebih cenderung kepada sesuatu yang berbau seks.
Pandangan Terhadap Valentine’s Day
Seperti yang dipaparkan di atas bahwa perayaan Valentine’s day bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan berasal dari budaya umat non-Islam. Maka, sudah barang tentu haram hukumnya untuk kita ikut merayakannya atau hanya sekedar memberikan selamat. Karena apabila kita memberikan ucapan selamat, itu berarti kita telah mengakui kebenaran agama mereka, sedangkan agama yang benar di sisi Allah SWT hanyalah Islam. Sebagaimana Allah berfirman:
“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya” (Q.S. Ali-Imran:19)
Adapun ikut merayakannya maka itu lebih tidak boleh lagi. Apabila kita ikut merayakannya maka kita akan termasuk ke dalam golongan mereka, sebagaimana rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka” (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)
Di redaksi lainnya, rasulullah SAW bersabda:
“Tidak termasuk golonganku orang-orang yang menyerupai selain golongan umatku (umat Islam).”(HR. Tirmidzi dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari datuknya).
Apabila kita sudah termasuk golongan mereka, berarti tempat kita di akhirat nanti akan sama juga dengan mereka, yaitu neraka. Lalu pertanyaannya, apakah kita mau menemani mereka di neraka kelak hanya karena kita ikut-ikutan merayakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya? Semua itu tergantung pilihan pembaca, karena hidupmu adalah pilihanmu.
Apa dampak perayaan Valentine’s day bagi generasi muda?
Perayaan Valentine’s day yang bukan berasal dari Islam tentu menimbulkan banyak mudharat kepada kaum muslimin, terutama kepada kaula muda. Apalagi Valentine’s day begitu sarat dengan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. Tak jarang para remaja putri yang merelakan keperawanannya demi sang kekasih pada saat Valentine’s day. Alasan yang sering dikemukakan tak lain adalah untuk menunjukkan kasih-sayangnya kepada sang kekasih. Sungguh, sebuah alasan yang tidak mendasar dan tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana mungkin, rasa sayang diwujudkan dengan memberikan sebuah harta yang paling berharga kepada seseorang yang bukan mahromnya. Sungguh aneh, sebuah perbuatan dosa besar di mata agama dianggap sebuah bukti kasih sayang? Yang ada, itu adalah bukti ketidakterikatannya dengan hukum syara’.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, masyarakat bukannya menentang perayaan dan kegiatan-kegiatan yang terkandung di dalamnya, tapi malah ikut memberikan support. Buktinya, pada saat Valentine’s day makin banyak pihak yang menjual barang-barang yang berbau Valentine’s day, seperti coklat dan bunga mawar. Minimarket-minimarket semakin gencar melakukan promosi coklat. Promosi ini tidak hanya sekedar promosi biasa, namun ini adalah promosi yang menjerumuskan si pembeli untuk berbuat maksiat. Bagaimana tidak, promosi coklat ini berupa pemberian kondom secara gratis apabila membeli beberapa coklat. Tentu ini akan menjerumuskan pemuda kita ke aktivitas freesex.
Apabila kaum muda telah terjerumus pada hal-hal yang semacam ini, maka tunggulah kehancuran bangsa ini. Pemuda yang menjadi generasi penerus bangsa tidak lagi tangguh, tak lagi bertanggung jawab, bukan lagi generasi yang berkualitas, melainkan mereka sudah menjadi generasi yang rusak yang sudah tidak dapat diandalkan lagi.
Solusi Islam Mengangapi Valentine’s Day
Ketika kita bebicara mengenai pandangan menurut Islam, maka kita akan berbicara tentang hukum-hukum syara’ karena hukum syara’ adalah essensi dari Islam itu sendiri.
Dalam menangani hal ini, Islam mempunyai solusi tesendiri yang dijamin akan membuahkan hasil. Generasi muda Islam dari sejak dini dididik supaya berkepribadian Islami, dimana berpola pikir dan pola sikap Islam, sehingga ketika ada suatu budaya asing yang bertentangan dengan akidah mereka, mereka mampu mengatasinya.
Namun kenyataannya, generasi muslim saat ini tidak lagi berpola pikir dan pola sikap Islam. Semua itu karena pendidikan yang dienyam oleh generasi saat ini adalah pendidian sekuler yang sama sekali tidak akan pernah membentuk sebuah kepribadian Islam pada diri mereka. Pendidikan sekuler ini hanya akan menjauhkan mereka dari Islam itu sendiri, sehingga yang terbentuk adalah generasi yang berkepribadian sekuler pula. Seseorang yang berkepribadian sekuler akan cenderung bersikap bebas karena pada dirinya tak ada lagi rasa untuk terikat dengan hukum syara’.
Pemasalahan ini bukan hanya terletak pada satu komponen pendidikan saja, melainkan permasalahan ini adalah permasalahan sistemik. Dimana, generasi muda yang rusak karena tidak berkepribadian Islam sebagai output dari sistem penddidian sekuler. Wajah sistem pendidikan tidak terlepas dari bentuk kurikulum yang yang dihasilkan oleh suatu negara. Jadi, untuk menjadikan generasi muda ini tetap baik (Islami) diperlukan sistem pendidikan yang Islami pula, sistem pendidikan yang Islami tidak akan pernah terbentuk dalam sistem pemerintahan yang sekuler, melainkan hanya akan terbentuk dalam sistem pemerintahan Islam juga. Sebuah sistem pemerintahan yang menjaga generasinya dari budaya asing yang menjerumuskan dan memastikan generasinya adalah generasi yang berkualitas, yaitu khilafah Islamiyyah
Hentikan Tukang Jagal Arogan Suriah Bashar Assad
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 23.39
with No comments
Sheikh Al-Sudais: Hentikan Tukang Jagal Arogan Suriah Bashar Assad
MAKKAH, ARAB SAUDI (voa-islam.com) - Imam dan Khatib Masjidil Haram Makkah Sheikh Abdul Rahman Al-Sudais dalam khotbah Jumat kemarin mengimbau masyarakat Internasional untuk menghentikan kampanye kejam pasukan Suriah terhadap para pemrotes warga sipil.
"Himbauan ini adalah mengikat para pengambil keputusan untuk mengambil tindakan tegas dan definitif untuk menyelamatkan bangsa tersebut dari tukang jagal arogan," kata Sheikh Sudais mengacu pada presiden Suriah Bashar Assad.
Selain di Masjidil Haram Makkah, Khotbah Jumat di masjid-masjid Riyadh juga menyerukan untuk diakhirinya pertumpahan darah di Suriah, di mana orang tak bersalah yang dibunuh tanpa ampun.
Imam Jum'at di masjid-masjid di ibukota menggambarkan situasi saat ini di Suriah sangat serius, yang akan mempengaruhi umat Muslim pada umumnya dan Muslim Suriah pada khususnya.
..Himbauan ini adalah mengikat para pengambil keputusan untuk mengambil tindakan tegas dan definitif untuk menyelamatkan bangsa tersebut dari tukang jagal arogan..
Imam Sheikh Abdul Rahman Al-Omar khotib Jum'at di Masjid Al-Hajiri di Malaz memohon pertolongan Allah untuk memulihkan perdamaian di Suriah dan menghukum mereka yang bertanggung jawab atas pembantaian tersebut.
Sementara itu, ribuan warga Suriah melakukan pawai Jumat untuk menuntut pemecatan Bashar Assad, saat pasukan presiden yang diperangi itu melepaskan tembakan terberat mereka di Homs dalam upaya brutal untuk menghancurkan perbedaan pendapat, kelompok monitor mengatakan. Para pengunjuk rasa keluar dari masjid setelah salat Jum'at, sejalan dengan seruan oleh aktivis berbasis di internet untuk unjuk rasa untuk sebuah "fase baru perlawanan populer."
Mereka keluar setelah Majelis Umum PBB sangat mendukung sebuah inisiatif Liga Arab yang menyerukan Assad untuk mundur, dan menjelang kunjungan oleh utusan China mendorong perdamaian.
MAKKAH, ARAB SAUDI (voa-islam.com) - Imam dan Khatib Masjidil Haram Makkah Sheikh Abdul Rahman Al-Sudais dalam khotbah Jumat kemarin mengimbau masyarakat Internasional untuk menghentikan kampanye kejam pasukan Suriah terhadap para pemrotes warga sipil.
"Himbauan ini adalah mengikat para pengambil keputusan untuk mengambil tindakan tegas dan definitif untuk menyelamatkan bangsa tersebut dari tukang jagal arogan," kata Sheikh Sudais mengacu pada presiden Suriah Bashar Assad.
Selain di Masjidil Haram Makkah, Khotbah Jumat di masjid-masjid Riyadh juga menyerukan untuk diakhirinya pertumpahan darah di Suriah, di mana orang tak bersalah yang dibunuh tanpa ampun.
Imam Jum'at di masjid-masjid di ibukota menggambarkan situasi saat ini di Suriah sangat serius, yang akan mempengaruhi umat Muslim pada umumnya dan Muslim Suriah pada khususnya.
..Himbauan ini adalah mengikat para pengambil keputusan untuk mengambil tindakan tegas dan definitif untuk menyelamatkan bangsa tersebut dari tukang jagal arogan..
Imam Sheikh Abdul Rahman Al-Omar khotib Jum'at di Masjid Al-Hajiri di Malaz memohon pertolongan Allah untuk memulihkan perdamaian di Suriah dan menghukum mereka yang bertanggung jawab atas pembantaian tersebut.
Sementara itu, ribuan warga Suriah melakukan pawai Jumat untuk menuntut pemecatan Bashar Assad, saat pasukan presiden yang diperangi itu melepaskan tembakan terberat mereka di Homs dalam upaya brutal untuk menghancurkan perbedaan pendapat, kelompok monitor mengatakan. Para pengunjuk rasa keluar dari masjid setelah salat Jum'at, sejalan dengan seruan oleh aktivis berbasis di internet untuk unjuk rasa untuk sebuah "fase baru perlawanan populer."
Mereka keluar setelah Majelis Umum PBB sangat mendukung sebuah inisiatif Liga Arab yang menyerukan Assad untuk mundur, dan menjelang kunjungan oleh utusan China mendorong perdamaian.
Kenapa Surat Al-Taubah Tidak Diawali Dengan Basmalah?
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 23.35
with No comments
Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Sebagaimana yang sudah sama-sama kita ketahui, bahwa surah Al-Taubah atau al-Bara-ah, penulisannya dalam mushaf tidak diawali dengan Basmalah. Sebabnya adalah para sahabat Radhiyallahu 'Anhum tidak menuliskannya di awalnya dalam mushaf. Mereka mengikuti Amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu. Al-Tirmidzi mengeluarkan satu riwayat dalam sunannya dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, yang mempertanyakan kepada Utsman bin Affan tentang latar belakang keputusannyamenggandengkan Al-Anfal (padahal ia termasuk jenis al-Matsani, -ayatnya kurang dari seratus-) dan mempelakukan Bara'ah (padahal ia bagian dari Mi-uun, -jumlah ayatnya seratus lebih-) tanpa memberikan pembatas "Bismillahirrahmanirrahim" pada keduanya, dan meletakkannya pada Sab'un Thiwal (tujuh surat yang paling panjang). "Apa yang sebab kalian melakukan itu?" tanyanya.
Lalu Utsman menjawab, "Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada suatu masa turun kepada beliau beberapa surat yang ayatnya banyak, maka apabila turun sesuatu kepada beliau maka beliau memanggil sebagian orang yang bertugas menuliskan wahyu, lalu beliau bersabda: "Letakkan ayat-ayat itu dalam surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begitu." Apabila turun satu ayat kepada beliau maka bersabda, "Letakkan ayat ini di dalam surat yang di dalamnya disebutkan begini dan begitu." Dan adalah Al-Anfal termasuk bagian surat yang pertama-tama diturunkan di Madinah. Sedangkan Bara'ah termasuk Al-Qur'an yang terakhir turun (di sana). Isinya (Bara'ah) mirip dengan isi Al-Anfal, maka aku mengira bahwa Bara'ah bagian dari Anfal. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam wafat dan belum sempat menjelaskan hal itu kepada kami. Oleh karena itu aku menggandengkan antara keduanya dan tidak menuliskan di antara keduanya Bismillahirrahmanirrahim. Lalu aku meletakkannya dalam bagian Sab' Thiwal." (Dinukil dari Fatawa Lajnah Daimah: 4/225)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: " . . . Dan pendapat yang shahih, tidak ada Basmalah di antara ia (Al-Taubah) dan Al-Anfal. Karena Basmalah adalah satu ayat dalam kitabullah 'Azza wa Jalla. Maka apabila Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengatakan: "Letakkan basmalah antara dua surat," Maka mereka tidak akan meletakkan Basmalah di antara keduanya. Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam itu yang menetapkan dan bersabda, "Letakkan Basmalah," dan beliau tidak menetapkan Basmalah di antara al-Anfal dan Bara-ah, sehingga mereka tidak menuliskannya. Tetapi ini masih menyisakan pertanyaan, "Jika beliau tidak menetapkan, lalu kenapa ia dipisah dari surat Al-Anfal? Kenapa tidak dijadikan satu surat saja?." Kami jawab, "Ya. Mereka tidak menjadikan keduanya sebagai satu surat. Karena mereka ragu, apakah Bara'ah itu satu surat dengan Al-Anfal atau dua surat yang saling menjelaskan?" Kemudian mereka berkata: "Kami jadikan pemisah antara dua surat, dan tidak kami adakan Basmalah. Inilah pendapat yang shahih tentang tidak adanya penyebutan Basmalah di antara surat Bara'ah dan Al-Anfal." (Dinutip dari Liqa' al-Bab al-Maftuh, no. 18)
Sehingga dari sini hadir hukum membaca Basmalah di awal surat Al-Taubah. Pendapat paling kuat yang hampir tidak ada perbedaan di antara ulama adalah dimakruhkan. Sehingga tidak dianjurkan memulai membaca surat Al-Taubah dengan membaca Basmalah, yakni Bismillahirrahmanirrahim.
Shalih dalam Masail-nya menuturkan dari bapaknya, Ahmad rahimahullah: "Aku bertanya kepadanya tentang surat Al-Anfal dan surat al-Taubah, apakah boleh bagi seseorang memisahkan keduanya dengan Bismillahirrahmanirrahim. Bapakku menjawab, "Urusan Al-Qur'an itu dikembalikan kepada ijma' para sahabat Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tidak boleh ditambahi dan tidak boleh dikurangi." Wallahu Ta'ala A'lam.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Sebagaimana yang sudah sama-sama kita ketahui, bahwa surah Al-Taubah atau al-Bara-ah, penulisannya dalam mushaf tidak diawali dengan Basmalah. Sebabnya adalah para sahabat Radhiyallahu 'Anhum tidak menuliskannya di awalnya dalam mushaf. Mereka mengikuti Amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu. Al-Tirmidzi mengeluarkan satu riwayat dalam sunannya dengan sanad yang sampai kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, yang mempertanyakan kepada Utsman bin Affan tentang latar belakang keputusannyamenggandengkan Al-Anfal (padahal ia termasuk jenis al-Matsani, -ayatnya kurang dari seratus-) dan mempelakukan Bara'ah (padahal ia bagian dari Mi-uun, -jumlah ayatnya seratus lebih-) tanpa memberikan pembatas "Bismillahirrahmanirrahim" pada keduanya, dan meletakkannya pada Sab'un Thiwal (tujuh surat yang paling panjang). "Apa yang sebab kalian melakukan itu?" tanyanya.
Lalu Utsman menjawab, "Adalah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada suatu masa turun kepada beliau beberapa surat yang ayatnya banyak, maka apabila turun sesuatu kepada beliau maka beliau memanggil sebagian orang yang bertugas menuliskan wahyu, lalu beliau bersabda: "Letakkan ayat-ayat itu dalam surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begitu." Apabila turun satu ayat kepada beliau maka bersabda, "Letakkan ayat ini di dalam surat yang di dalamnya disebutkan begini dan begitu." Dan adalah Al-Anfal termasuk bagian surat yang pertama-tama diturunkan di Madinah. Sedangkan Bara'ah termasuk Al-Qur'an yang terakhir turun (di sana). Isinya (Bara'ah) mirip dengan isi Al-Anfal, maka aku mengira bahwa Bara'ah bagian dari Anfal. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam wafat dan belum sempat menjelaskan hal itu kepada kami. Oleh karena itu aku menggandengkan antara keduanya dan tidak menuliskan di antara keduanya Bismillahirrahmanirrahim. Lalu aku meletakkannya dalam bagian Sab' Thiwal." (Dinukil dari Fatawa Lajnah Daimah: 4/225)
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: " . . . Dan pendapat yang shahih, tidak ada Basmalah di antara ia (Al-Taubah) dan Al-Anfal. Karena Basmalah adalah satu ayat dalam kitabullah 'Azza wa Jalla. Maka apabila Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengatakan: "Letakkan basmalah antara dua surat," Maka mereka tidak akan meletakkan Basmalah di antara keduanya. Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam itu yang menetapkan dan bersabda, "Letakkan Basmalah," dan beliau tidak menetapkan Basmalah di antara al-Anfal dan Bara-ah, sehingga mereka tidak menuliskannya. Tetapi ini masih menyisakan pertanyaan, "Jika beliau tidak menetapkan, lalu kenapa ia dipisah dari surat Al-Anfal? Kenapa tidak dijadikan satu surat saja?." Kami jawab, "Ya. Mereka tidak menjadikan keduanya sebagai satu surat. Karena mereka ragu, apakah Bara'ah itu satu surat dengan Al-Anfal atau dua surat yang saling menjelaskan?" Kemudian mereka berkata: "Kami jadikan pemisah antara dua surat, dan tidak kami adakan Basmalah. Inilah pendapat yang shahih tentang tidak adanya penyebutan Basmalah di antara surat Bara'ah dan Al-Anfal." (Dinutip dari Liqa' al-Bab al-Maftuh, no. 18)
Sehingga dari sini hadir hukum membaca Basmalah di awal surat Al-Taubah. Pendapat paling kuat yang hampir tidak ada perbedaan di antara ulama adalah dimakruhkan. Sehingga tidak dianjurkan memulai membaca surat Al-Taubah dengan membaca Basmalah, yakni Bismillahirrahmanirrahim.
Shalih dalam Masail-nya menuturkan dari bapaknya, Ahmad rahimahullah: "Aku bertanya kepadanya tentang surat Al-Anfal dan surat al-Taubah, apakah boleh bagi seseorang memisahkan keduanya dengan Bismillahirrahmanirrahim. Bapakku menjawab, "Urusan Al-Qur'an itu dikembalikan kepada ijma' para sahabat Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tidak boleh ditambahi dan tidak boleh dikurangi." Wallahu Ta'ala A'lam.
SILAHKAN MASUKKAN ENTRI JOIN NAMA ANDA
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 23.30
with No comments
Silahkan Masukkan saran dan kritik ANDA
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 06.23
with No comments
DOA UNTUK KEKASIH HATI
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 08.10
with 1 comment

Allah Yang Maha Pemurah, terimakasih Engkau telah menciptakan dia dan mempertemukan saya dengannya.
Terimakasih untuk saat-saat indah yang boleh kami nikmati bersama.
Terimakasih untuk setiap pertemuan yang boleh kami lalui bersama.
Terimakasih untuk setiap saat-saat yang lalu.
Saya datang bersujud dihadapan-Mu,
Sucikan hati saya yaa Allah, sehingga dapat melaksanakan kehendak dan rencana-Mu dalam hidup saya.
Yaa Allah, jika saya bukan pemilik tulang rusuknya,
janganlah biarkan saya merindukan kehadirannya.
Janganlah biarkan saya melabuhkan hati saya di hatinya.
Kikislah pesonanya dari pelupuk mata saya
dan usirlah dia dari relung hati saya.
Gantilah damba kerinduan dan cinta yang bersemayam di dada ini dengan kasih dari dan pada-Mu yang tulus dan murni.
Tolonglah saya agar dapat mengasihinya sebagai sahabat.
Tetapi jika Kau ciptakan dia untuk saya, yaa Allah,
tolong satukan hati kami.
Bantulah saya untuk mencintai, mengerti dan menerima dia seutuhnya.
Berikan saya kesabaran, ketekunan, dan kesungguhan untuk memenangkan hatinya.
Urapilah dia agar dia juga mencintai, mengerti dan mau menerima saya
dengan segala kelebihan dan kekurangan saya sebagaimana saya telah Kau ciptakan.
Yakinkanlah dia bahwa saya sungguh-sungguh mencintai dan rela membagi suka dan duka saya dengan dia.
Yaa Allah Maha Pengasih, dengarlah doa saya ini.
Lepaskanlah saya dari keraguan ini menurut kasih dan kehendak-Mu.
Allah Yang Maha Kekal, saya tahu Engkau senantiasa memberikan yang terbaik buat saya.
Luka dan keraguan yang saya alami pasti ada hikmahnya.
Pergumulan ini mengajar saya untuk hidup makin dekat pada-Mu, untuk lebih peka terhadap suara-Mu
yang membimbing saya menuju terang-Mu.
Ajarlah saya untuk tetap setia dan sabar menanti tibanya waktu yang telah Engkau tentukan.
Jadilah kehendak-Mu dan bukan kehendak saya yang jadi dalam setiap bagian hidup saya, yaa Allah.
Amin….
TERIMA KASIH SARANYA TEMAN
Posted by www.hanfferianto.com
Posted on 05.42
with No comments



